Jumat, 21 Desember 2012

Untukmu Sahabat : Chapter (5) : Apa Mungkin Sivia?



Seharian, Gabriel tak habis memikirkan jawaban apa yang nanti Ify berikan. Antara ‘ya’ atau ‘tidak’. Sedari tadi ia hanya mondar-mandir nggak jelas. Ia bingung mau melakukan apa. Tadi ia di miscall oleh Dira. Katanya Dira mau mengajaknya main basket. Tapi Gabriel menolak. Jangankan main basket, nonton TV aja dia nggak mood.

Besok, tepatnya hari selasa, Ify akan menjawab perasaannya. Semakin cepat waktu berjalan, semakin dag-dig-dug aja. Mungkin malamnya Gabriel akan terkena insomnia.

“Kaka..”

Terdengar dari luar kamar suara seorang cewek. Tania, adik sematang wayangnya pasti ingin menagih janji untuk membelikannya kue natsar di Taman Bunga Indah. Huf.. Coba nggak gara-gara janji itu, mana mungkin Gabriel mau pergi ke tempat yang hanya ia datangi sekali saja.

Jaket hitam yang digantung di balik pintu kamar segera ia ambil lalu ia pakai. Tak lupa, kaca mata hitam dan kunci motor yang ia taruh di meja belajar. Dengan penampilan yang keren itu, Gabriel keluar rumah dan langsung men-starter motornya. Dari balik persembunyian, seorang cewek menatap kepergian motor itu dengan mata yang berkaca-kaca.

‘Maafin aku ya Iyel..’

“Duar!!”

Spontan Ify meloncat(?). Ah, Tania. Dia emang sering mengagetkannya. Gadis cilik itu memang memiliki hobi yang unik yaitu suka mengagetkan seseorang. Yang baru dikenalinya pun selalu ia kagetkan. Ify yang menjadi korban ke seribu. 

“Dede Tania ngagetin Kaka aja deh..” Kesal Ify memandangi gadis cilik yang tertawa karena berhasil mengagetkannya. Kedua cewek itu akhirnya bercanda bersama. Ify hampir lupa apa tujuannya pergi kesini. 

“Oh ya, ini Kaka titip surat ke Tania. Jangan lupa ya surat ini dikasi untuk Kak Iyel..”

Tania menerima sebuah surat dari tangan Ify. Senyum jahilnya pun mulai ada. Pasti ada sesuatu nih antara Kak Ify dengan Kak Iyel..

“Ify balik dulu ya.” Ucap Ify lemas. Seakan-akan ia rapuh meninggalkan rumah ini. Tania menatap kepergian Ify sambil menerka-nerka. Walaupu ia masih kecil, namun ia dapat mengartikan perasaan apa yang sedang Ify rasakan sekarang.

***

“Guk..Guk!!!”

Sial! Itukan anjing galak milik Pak Alex, kok bisa ada disini sih? Mati gue! Anjing itu mendekatinya. Detik pertama, Gabriel masih diam di tempat. Kedua..Ketiga.. Lari!!! Sekuat tenaga Gabriel melarikan diri dari anjing galak itu. Saking cepatnya lari, Gabriel nggak sengaja menabrak seorang cowok. Alhasil, ia dan cowok itu terjatuh bersamaan. Anjing itu.. Hahaha.. Lari aja enggak. Ternyata, tuh anjing udah dihipnotis menjadi anjing yang baik. Huh, kalo aja udah tau dari kemarin, ngapain juga lari? Buang-buang tenaga aja. 

“Lo kalo lari pake mata dong!” Bentak cowok yang ditabraknya.

“S..Sorry, gue nggak sengaja..” Ucap Gabriel lemah.

Cowok yang tadi ditabraknya memerhatikannya dari ujung rambut samapi ujung kaki. Gabriel merasa risih diperhatiin kayak gitu. Tuh cowok kenapa ya? Naksir ama gue? Idih, nggak banget deh. Dikira gue cewek lagi.

“Lo Gabriel kan?” Tanya cowok itu

Hah? Darimana dia tau nama gue?

“Jangan heran gitu, gue kenal lo dari Dira.” Kata cowok itu santai.

Dari Dira? Hemm.. Kayaknya sih tuh cowok nggak asing lagi bagi gue. Tapi dimana ya gue ketemu ma cowok itu? Oh, apa dia sepupu Dira? Ya! Cakka Kawekas Nuraga. Sepupu Dira.

“Cakka?” Tanya Gabriel yakin. Cowok itu malah tersenyum dan tidak menjawab. Dia langsung pergi tanpa berkata apa-apa. Uh, aneh banget tuh cowok. Bener apa kata Dira, Cakka emang sering kesal, marah-marah, katanya juga sih, Cakka itu lagi iri sama temennya.

Dan akhirnya, sampe juga di Taman Bunga Indah. Ingat taman ini, Gabriel ingat dengan cowok yang dikagumi Dira. Eh, dimana ya letak Toko Chacake?

“Permisi, dimana ya toko chacake?” Tanya Gabriel sopan kepada seorang cewek berpipi chubby yang sedang asyik dalam dunia bacaannya. Cewek yang ditanyainya itu tertawa pelan.

“Disamping resto-mix.” Jawabnya masih tetap tertawa kecil.

Resto-Mix? Dimana pula itu?

“Ehm, dimana Resto-mix itu?” Tanya Gabriel lagi.

Hahaha.. Tawa cewek itu mengembang. Tadi hanya kecil, sekarang besar.

“Disamping toko chacake.”

Jadi begini, cewek itu mempermainkannya. Gabriel udah nggak tahan pengen membentak cewek yang nggak dikenalinya itu. Tanya baik-baik kok dijawab tawaan sih?

“Eh, gue serius nanya ke elo! Sekarang jawab dengan jujur, dimana toko chacake?”

“Hahaha..” Tawa cewek itu. “Aduh Mas yang cakep, manis, ganteng ini..Toko chacake itu disini Mas, gimana sih Mas ini?” Cewek itu berdecak. Muka Gabriel berubah menjadi malu. Uh, kenapa gue sebego ini?

“Ups. Maap deh.”

Gabriel pun masuk ke dalam toko itu. That right! Toko ini adalah toko chacake. Menyediakan aneka macam roti yang lezat-lezat. Setelah mengambil sekotak kue natsar dan membayar di kasir, Gabriel mencar-cari sosok cewek tadi. Ingin rasanya dia kenal lebih dekat dengan cewek itu.

“Em, maaf. Boleh tau namanya siapa?” Tanya Gabriel.

“Sivia. Lo?” Jawab cewek itu.

“Gabriel.”

Sumpah! Keren banget tuh cowok. Batin Sivia dalam hati. Salting deh Via berhadapan dengan cowok cakep ini. Dari dalam toko, sepasang mata memerhatikan adegan itu. Hemm, pasti nih Sivia udah ngelupain Rio. Cepet banget tuh cewek pindah ke lain hati.

“Gue balik dulu ya..” Kata Gabriel

Yah. Kok cepet banget sih perginya.

“Ya udah deh. Hati-hati di jalan.”

Aduh, perasaannya sekarang lagi gimana gitu. Inilah kesempatan besar Acha untuk menggoda Sivia. Mulai dari kalimat, ‘cie..cie’ atau ‘ehem..ehem..dapet gebetan baru’.

“Inget Cha, lusa nanti kita daftar.” Kata Sivia 

“Yoi. Dan inget traktirannya juga ya. Lo kan dapet gebetan baru yang cakepnya bukan main itu. Hahaha..”
Kambuh..Kambuh sifat usil Acha. Dengan semangat Acha mencubit pipi Sivia. Otomatis Sivia mengerang kesakitan.

“ACHAA!!!”

***

Pendaftaran SMA Alinice dibuka. Banyak siswa-siswi dari berbagai SMP berlomba-lomba mendaftar disana. Salah satunya adalah Zahra. Zahra Damariva tepatnya. Ia berasal dari SMP 9. Suasana di sekeliling SMA Alinice hiruk pikuk. Bangunan megah lantai tiga, sarana yang lengkap, serta murid yang berprestasi membuat SMA Alinice adalah SMA nomor satu di Kota Bandung. Zahra membayang-bayangkan dirinya bisa diterima disini. Kalo diterima, bisa terbang ke langit deh.

Secepat kilat ia mengambil formulir pendaftaran. Diisinya formulir itu dengan teliti, lalu diperiksa berulang-ulang agar nanti tidak salah. Karena serius memeriksa, Zahra sama sekali tidak sadar kalau ada seseorang yang memanggilnya. Zahra pun menoleh ke arah orang itu. Dan waw! Mimpi apa ia semalam sampai-sampai sekarang ini ia berhadapan dengan seorang cowok yang dikategorikan sebagai cowok keren?

“Boleh saya pinjam pulpennya?” Tanya cowok itu ramah.

 Mulut Zahra tidak bisa berbicara. Cowok itu sudah menyihirnya. Ia hanya bisa memberi cowok itu pulpen angry birdsnya. Tangan indah cowok itu sedang menari-nari di atas lembaran formulir pendaftaran. Lucunya, Zahra iseng mencatat apa yang ditulis cowok itu. Setelah cowok itu selesai menulis, pulpen angry birdsnya dikembalikan. Cowok itu tersenyum manis. Ampuuuunnn!!!

“Makasi.” Kata cowok itu

“S..Sama-sama..”

Cowok itu langsung mengumpulkan formulir di panitia. Tiba-tiba kedua matanya menangkap wajah seseorang. Seseorang yang dirindukannya. 

“Cakka!!” Teriaknya. Namun yang diteriaki itu tidak menoleh.

Air matanya mulai ada. Tapi secepat mungkin ia hilangkan. Sebagai seorang lelaki, ia tidak boleh menangis. Mungkin saja cowok tadi itu bukan Cakka, sahabat sejatinya dari kecil.

“Rio nggak papa?” Tanya Ozy. Dia juga daftar sekolah disini.

Rio hanya mengangguk. Ingin rasanya ia menceritakan kejadian tadi. Tapi sudahlah. Itu semua tidak begitu penting. Rio hanya berharap, Cakka masih mengingatnya dan masih menganggapnya sebagai sahabat sejatinya.

***

Dear Gabriel :

Maaf kalo surat ini dapat menyakiti hati Iyel. Ify hanya bilang kalo Ify nggak bisa menjadi cinta terakhir Iyel. Dan Ify yakin sekali di luar sana ada seorang cewek yang menunggu cinta Iyel. Ify yakin sekali. Iyel harus berusaha untuk mendapatkan cewek itu.

From : Ify

Setidaknya hari ini ia bisa tenang. Ia tau Ify belum siap menjadi ceweknya. Tapi tak apa. Ia hanya perlu berusaha untuk mendapatkan cewek lain di hatinya, sesuai pesan Ify. Hah. Gabriel merebahkan tubuhnya di kasur. Sivia. Nama cewek itu berkelebat di pikirannya. Wajah manisnya juga menemani pikirannya. Oh, apa mungkin cewek itu adalah Sivia? Cewek yang akan menerimanya suatu hari nanti? Cewek yang dimaksud Ify di dalam surat itu?

***

Rabu, 19 Desember 2012

Untukmu Sahabat : Chapter (4) : Sebuah Dilema



Setangkain bunga mawar merah tersimpan rapi di vas bunga. Pemilik bunga mawar itu bingung mau ia apakan bunga itu. Apakah harus dibuang? Rasanya tidak. Bunga itu ia beli dengan harga yang cukup mahal. Percuma kan kalo dibuang. Sebuah tangan menyentuh pudaknya. Mendadak ia kaget. Hah? Dira? Ada apa dia kemari?

“Eh Dira, what wrong you come here?” Cowok pemilik bunga itu bertanya kepada temannya.

“Gue mo omongin cowok yang kemaren itu..” Jawab Dira seraya duduk dihadapan Gabriel.

“Rio?” Tanya Gabriel malas.

Dira mengangguk. Sejak kejadian di Taman Bunga Indah itu, Dira selalu menyinggung masalah tentang Rio, dan sepertinya Gabriel tidak tertarik membahas soal Rio. Yang terpenting adalah akan ia apakan mawar merah ini?

“Lo lagi fall love ya?” Tebak Dira yakin. Otomatis muka Gabriel berubah menjadi malu.

“E..enggak kok..”

“Hahaha.. Lo bohong. Gue itu kan sahabat lo sejak kecil, gue tau dong apa yang lo rasakan sekarang.” Dira memegang pundak Gabriel dengan kedua tangannya. “Yel, kalo lo memendam sebuah perasaan, entah itu cinta ato bukan, sebaiknya lo ungkapin perasaan itu. Kalo nggak, itu sama artinya lo sakiti diri lo sendiri.”

Paham tidak paham Gabriel tetap harus paham. Ucapan yang Dira katakan tadi emang ada benarnya. Ia harus ungkapin perasaannya pada Ify, juga mawar itu. Mawar itu sebagai tanda cintanya untuk Ify. So, just wait for a time. Tunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaan itu.

“Ya udah deh..” Kata Gabriel

Dira, cowok berusia tujuh belas tahun itu tersenyum melihat sahabatnya yang sedang dilanda banjir, eh.. cinta! Menurutnya, cinta itu adalah sebuah anugerah dan juga sebuah misteri yang sulit ia pecahkan. Kedua matanya pun memandangi bunga mawar cantik yang berada di dalam vas bunga. Dira tersenyum.

“Yel, gue pengen kenal dekat ma Rio. Gue tuh kagum ma dia. Dia itu jago banget maen basket..” Ucap Dira.

“Ah, lo ini ngefans banget sama cowok yang jago maen basket..”

“Cewek juga! Jangan lupa.” Tambah Dira.

Cewek? Hemm.. Belakang-belakangan ini Dira naksir lho sama Putri, kapten cheers yang dikenal seksi nan menawan. Pujaan hati para cowok. Hahaha.. Tapi Diranya nggak berani PDKT, katanya malu. Huu.. Katanya tadi nggak boleh memendam perasaan, eh malah dianya yang memendam perasaan. Dasar! Sok kasi nasehat.

By the way, siapa nama cewek pujaan lo itu?” Tanya Dira sambil memakan snack qtella favoritnya.

“Rahasia. Doain gue ya agar Ify mo nerima cinta gue..”

Waduh! Keceplosan deh ngomongnya.

“Hahaha.. Ify..” Teriak Dira lalu meninggalkan Gabriel.

“Woi! Dasar lo!” Geram Gabriel.

***

Alhamdulillah..

Kalimat itulah yang pertama kali diucapkan oleh Acha saat mngetahui hasil nemnya. Tiga puluh enam. Murni! Sembilan koma dua lima untuk matematika, delapan koma tujuh lima untuk bahasa indonesia, delapan puluh koma lima puluh untuk bahasa inggris, dan sembilan koma lima puluh untuk IPA.

Papanya menyuruh sekolah di SMA Alinice. Tentu saja Acha nggak nolak. Oh, wait! Sivia kan juga sekolah disana. Asyik dong! Bisa satu sekolah sama Sivia. Sedaritadi Acha loncat-loncat saking gembira. Temannya yang bernama Yusuf mentertawakannya.

“Hahaha.. Acha mo jadi kelinci..”

Huh! Sial! Yusuf itulah temen cowoknya yang paling nakal dan iseng. Tapi sebenarnya dia baik lho! Pernah dulu sewaktu Acha kelas dua, PR Biologinya belum selesai ia kerjakan, dan Yusuf yang mengasih tau Acha jawabannya. Belum lagi saat ulangan fisika mendadak. Yusuf yang dikenal jago fisika itu dengan senang hati memberi contekan ke Acha. Alhasil, nilai Acha bagus. Huh, tapi itu kan nggak murni. 

“Lo mo sekolah dimana?” Tanya Acha

“Nggak tau nih..”

“Kalo gue di SMA Alinice.” Kata Acha tegas. Banyak lho temen-temennya yang pengen sekolah disana.

“Hei Cha! Kapan lo mo daftar di SMA Alinice?” Tiba-tiba Tasya-temen ekskull Acha-datang tanpa diundang. 

“Tanggal lima belas Mei kayaknya.”

Tasya meng’o’kan jawaban yang diberikan Acha. Niatnya bener-bener bulat yaitu sekolah di SMA Alinice. Tapi bukan semata-mata karena SMA Alinice itu SMA unggulan lho. Melainkan kalo Acha lagi naksir sama seseorang disana. Dira Putra Hendriawan. Ketua osis di SMA Alinice sekaligus kapten basket cowok yang menjadi idola para cewek.

***

Saking tidak percayanya, Ify membolak-balikkan undangan pernikahan itu. Undangan itu adalah undangan pernikahan Tante Martha dengan Om Ferdi. Katanya sih Om Ferdi itu dulunya kekasih Tante Martha sewaktu SMA. Romantis deh.. Cinta lama kembali bersemi.

Hari ini Ify sendirian di rumah. Papanya sedang bekerja. Hanya seekor kucing manis-yang diberi nama Melody-menemani hari-harinya. Kucing itu ditemukannya sebulan yang lalu disekitar pekarangan rumah Zahra.

Heeemm.. Tadi Zahra memberi info yang sangat heboh. Dia mendapat nem tiga puluh enam koma tiga sembilan. Masih tinggian Ify. Nem Ify yaitu tiga puluh delapan koma sembilan tiga. Nem yang cukup tinggi untuk bisa diterima di SMA Alinice. Aduh, SMA Alinice lagi. SMA 31 deh yang harus dipikirin. Tak apa. Ify udah siap menerima keadaan. Dimana pun ia sekolah, yang penting Ify selalu rajin belajar dan mendapat nilai yang memuaskan.

Acara pernikahan Tante Martha dilakukan pada hari sabtu nanti. Ify udah nggak sabaran melihat keluarga baru itu berbahagia. Bagaimana dengan keluarganya sendiri? Apakah Papa ingin menikah lagi untuk mencarikannya sesosok Mama yang selalu menyayanginya apa adanya? Apakah nantinya dia akan menjadi Cinderella? Punya Mama tiri dan Kakak tiri yang jahat. Dan selanjutnya ia akan bertemu seorang pangeran tampan dari negri sebrang yang akan melamarnya. Ah, itu hanyalah dongeng. Tidak semua ibu tiri jahat. Papanya juga udah bulat untuk nggak menikah lagi, karena Papanya tetap cinta mati sama Bu Irfa-mama Ify-.

Sebuah benda halus menyentuh kakinya. Ify kaget. Melody! Kucing itu selalu saja memberi kejutan yang nggak terduga. Ify bangkit lalu mengambil makanan untuk Melody. Nampaknya Melody mulai kelaparan. Gayanya yang manja membuat Ify sadar kalo kucing itu pengen diberi makan. 

***

Suara musik mengalun di rumah berhias itu. Para tamu duduk manis di kursi-kursi yang telah disediakan. Ada juga beberapa tamu yang mengambil hidangan yang udah disajikan. Dua wajah pengantin tersenyum bahagia. Sekelompok anak kecil berlari ria kesana-kemari, ikut membahagiakan susana itu. Marni salah satu dari beberapa anak kecil itu. Sedangkam Marcell entah pergi kemana. Marni tak sanggup menemukan kakaknya diantara sekian banyak tamu yang datang.

Kedua bola matanya mencari seseorang. Kemana Kak Ify? Dan seseorang itu ternyata udah ada dihadapannya. Tidak ada habis-habisnya Marni memuji Ify. Hari ini Ify terlihat cantik dan menawan. Rambut panjang ia biarkan tergerai ditiup angin. Drees merah muda selutut ditambah aksesoris lainnya yang sederhana. Disampingnya ada Zahra yang sedang nyengir melihat Marni melongo melihat tampang baru Ify yang dapat mengikat hati para cowok.

“Makasih ya Kak Fy, Kak Ra karna udah datang.” Ucap Marni. Ify dan Zahra hanya mengangguk menanggapi ucapan gadis kecil dihadapan mereka.

“Oh ya Kak, tadi Kak Fy dicari sama Kak Yel.”

Hah? Dicari Gabriel? Nggak salah denger tuh? Zahra terlihat senyam senyum melihat muka heran Ify. Pasti ada something diantara mereka-Ify dan Iyel-.

“Dimana Kak Iyel?” Tanya Ify

Marni mengangkat bahu. Terakhir kali ia melihat Gabriel saat Gabriel menemuinya di halaman teras rumah. Sehabis itu dia nggak tau kemana perginya.

“Ya udah kalo Marni nggak tau.” Kata Ify agak kecewa.

Setelah acara pernikahan Tante Martha selesai, Ify berjalan seorang diri menyusuri sekitar kompleks perumahan. Ia masih ingat perkataan Marni tadi. Gabriel benar-benar mencarinya. Untuk apa? Dirinya aja baru ketemu Gabriel cuma sekali.

Dari balik pohon rindang, Ify mendengar seorang cowok sedang menyanyi. Suaranya bagus. Petikan gitarnya juga indah. Karena penasaran, Ify pun berlari menuju asal suara indah itu. Jantungnya berdetak kencang melihat seorang cowok tersenyum padanya.

“Kak Iyel?”

Gabriel tersenyum manis melihat seseorang yang ditungguinya udah datang. Senyuman manis itu mengingatkan Ify dengan seseorang yang dulu pernah menolongnya. Ah, cowok itu. Tapi Ify tak yakin kalo Gabriel lah cowok yang menolongnya dulu. Bedanya, cowok yang dulu menolongnya tidak sedewasa Gabriel dan rambutnya berantakan juga gondrong. Tidak seperti Gabriel yang terlihat sangat rapi. Siapa sih cowok penolong itu? Lho, kok mikirin cowok itu lagi sih? Harusnya sekarang Ify memikirkan cowok yang ada didepannya.

“Fy..” Ucap Gabriel ragu.

Jantung Ify berdetak semakin kencang melihat tatapan itu. Ia bingung dengan perasaannya saat ini. Yang jelas bukan cinta, karena Ify sudah ada cowok yang ia sukai yaitu si cowok penolong itu. Waduh! Bingung nih. Suka sama cowok tapi cowok itu belum kita kenal. Bisa gawat nih.

“Fy, gue mo bilang sesuatu sama kamu.”

Tanpa komando dari Gabriel, tiba-tiba aja Ify udah duduk manis disamping Gabriel. Perasaannya semakin tidak enak. Ify merasakan ada sebuah dilema besar yang akan dihadapinya. Sebuah tangkai bunga mawar merah dan sebuah cokelat berbentuk cinta yang dipegang Gabriel menggetarkan hatinya. Tuhan, apa Gabriel mau..

“Fy, lo mau nggak jadi cinta terakhir gue? Jujur ya, sejak pertama kali gue ngeliat lo, jantung gue udah berdebar-debar. Sangat cepat emang. Tapi itulah cinta. Tidak kenal waktu dan tempat..”

JDERR...

Dadanya seperti ditusuk sebilah pedang tajam. Sungguh, Ify bingung mau menjawab apa. Gabriel, cowok cakep itu naksir kepadanya? Tidak mungkin.

“Fy, plis, lo harus jawab. Kalo lo nggak bisa jawab sekarang, gue akan kasi lo tiga hari untuk berfikir. Ambillah keputusan terbaik lo sebelum lo menyesal dikemudian hari.”

Apa yang dikatakan Gabriel benar. Ify harus berfikir dulu. Tapi.. Jika ia udah menemukan jawabannya, jawaban itu akan menusuk hatinya dan juga membuat hatinya tenang. Lho? Maksudnya apa? Melihat sosok Gabriel, pasti banyak cewek yang mengincarnya. Zahra pun pernah curhat kalo ia naksir sama Gabriel. Beruntung banget kalo Ify jadi kekasih Gabriel, tapi ya.. mengingat cowok yang dulu pernah menolongnya, berat rasanya untuk menerima cinta Gabriel.

“Mmm, Ify akan jawab sesuai waktu yang Gabriel kasi.. Permisi, Ify mo pergi..”

Jangan pergi Fy! Temani gue disini. Gue pengen lo nyanyi buat gue. Gabriel merintih dalam hati melihat orang yang dicintainya meninggalkannya. Fy, apa artinya lo nolak cinta gue?

Ify berjalan tak tentu arah. Semakin jauh dari Gabriel, ia semakin rapuh. Ify bingung apa yang harus ia jawab. Apa jawabannya ‘tidak’? Terus, kalo itu emang keputusannya, jika suatu saat Gabriel punya kekasih yang baru, apa ia tidak patah hati? Dan jika jawabannya ‘iya’, hari-harinya nanti akan dilanda kegelisahan. Tidak nyaman mengingat wajah cowok yang dulu pernah menolongnya yang menjadi cinta pertamanya. Tuhan, bantu aku untuk keluar dari dilema besar ini.

***

Untukmu Sahabat : Chapter (3) : A Memory


Setelah melewati tiga hari yang menegangkan-ujian-, Sivia merasakan kelegaan. Sekarang tinggal bersenang-senang aja deh! Urusan sekolah, Sivia yakin seratus persen diterima di SMA Alinice karena nilai rapotnya bagus-bagus juga prestasinya di bidang matematika amat meyakinkan untuk bisa sekolah di SMA Alinice. Sore yang agak mendung ini, Sivia memutuskan untuk pergi ke rumah Arin. Ia ingin pamer kalau ia udah tau siapa nama cowok yang ia dan Arin kagumi-Rio-.

Sepeda polygon warna biru tua berhenti di sebuah rumah berpagar besi. Itu adalah sepeda Sivia. Rumah Arin sangat bersih, rapi dan indah. Ditambah lagi taman bunga mini yang berada disamping teras. Sivia memakirkan sepedanya ke halaman rumah Arin. Sudah menjadi kebiasaannya memarkir sepeda di halaman rumah Arin tanpa sepengetahuan pemilik rumah.

“Wah ada bakpia! Apa kabar?” Sapa Arin

“Baik. Eh, gue mo ngasih lo info. Info penting.”

“Info apaan sih?” Tanya Arin malas

“Info tentang cowok itu lho! Ingat nggak?”

Arin memutar-mutar pikirannya, padahal dia tau siapa cowok yang Sivia maksud.

“Udah deh Rin, lo kelamaan mikir..” Kata Sivia, dia mencari ancang-ancang untuk pamer

“Oo.. cowok itu. Ada apa emangnya?”

Aneh. Arin nggak heboh. Seharusnya dia berteriak kegirangan mendapat info cowok pujaaannya. Hal ini membuat nyali Sivia turun drastis untuk memamerkan ke Arin.

“Tiga hari yang lalu gue ketemu ma dia. Gue tau siapa namanya.”

“Oh ya?” Arin mejadi serius. Melihat perubahan wajah Arin, semangat Sivia untuk pamer mendadak muncul lagi.

“Bener Rin. Coba deh lo ikut. Sumpah, tuh cowok cakep abis.”

Arin tertawa ngakak. Perkataan Sivia tadi bak lelucon terlucu yang pernah didengarnya. Sivia heran melihat cewek dihadapannya ini. Apa sih maksudnya?

“Napa lo ketawa? Ada yang lucu?”

“Via..Via..Hahaha..”

Sivia memanyunkan bibirnya. Hiiii... Arin pengen gue bejek-bejek. Apanya sih yang lucu? Kok ketawanya kayak gitu?

“Rin.. Maksud lo ketawa apa sih?”

“Via..” Akhirnya Arin berhenti ketawa. “Rio tau nggak nama lo?” Sambungnya membuat jantung Sivia meloncat(?)

***
Seperti biasa, cowok itu selalu memainkan bola basketnya. Hari ini adalah hari keberuntungan Arin. Ia bisa melihat cowok itu sepusnya. Ini kan sore hari. Coba kalau di siang bolong kayak sama Sivia dulu. Lagi-lagi kedua bola matanya terfokus melihat gerak-gerik cowok itu.


‘gue harus deketin dia!’ ujar Arin dalam hati


Segala keberanian ia kumpulkan. Arin pun menemui cowok itu. Waktunya tepat. Cowok itu sedang istirahat di pinggir lapangan sambil meneguk sebotol air mineral.


“Hai!” Sapa Arin ramah


“Hai juga!” Balas cowok itu


Tuhan! Betapa kerennya cowok itu! Sumpah deh, gue pengen terbang ke angkasa. Cowok itu memiliki wajah manis, cakep, keren dan tubuhnya tinggi semampai. Kulitnya agak kecoklatan karena mungkin sering berjemur di bawah terik sinar matahari. Arin duduk disamping cowok itu dengan jantung yang berdetak cepat dari biasanya.


“Maaf ya ganggu.” Ucap Arin


“Nggak papa kok.” Jawab cowok itu lembut


Duh... Maniiisss bangeeet.. Sivia harus tau!!


“Mmm, nama kamu siapa?” Tanya Arin


“Rio.”


“Gue Arin.”


Arin menjabat tangan Rio. Entah mengapa tangannya enggan melepaskan jabatan itu. Ia ingin terus memegang tangan Rio. Bahkan ia ingin sekali tangannya di genggam oleh Rio.


“Kenapa kamu main basket sendiri?” Tanya Arin setelah cukup berjabat tangan dengan Rio. Rio tidak menjawab. Ia malah sibuk memutar bola basketnya dengan jari telunjuknya. Merasa pertanyaannya tidak dijawab, Arin memilih untuk diam. Mungkin Rio sedang tidak mood hari ini.


“Bisa nggak kamu main basket?” Tanya Rio


Arin menggeleng.


“Sini aku ajarin biar kamu bisa.” Ajak Rio bangkit dari tempat duduk.


What? Apa gue salah denger? Cowok pujaan gue ngajarin gue maen basket? Cihuiii...

***
So sweet..” Ucap Gita-teman dekat Arin-. Gita baru datang sebelum Arin memulai kisahnya. Wajah Arin memerah mendengar ucapan Gita. Bagaimana dengan Sivia? Dia jealous mendengar kisah Arin. So, Arin udah ngerebut hati Rio?

“Gue nggak percaya cerita lo!” Kata Sivia

“Nggak percaya? Kalo lo nggak percaya, darimana gue tau kalo nama cowok itu Rio?”

Kena deh Sivia! Harus mo ngaku kalo Arin bener-bener udah kenal Rio.

“Ya udah deh, gue percaya.” Wajah Sivia lesu.

“Udah deh Siv, ohya, gue tadi juga ketemu Rio. Katanya dia nyuruh gue datang ke Taman Bunga Indah besok. Lo mo ikut? Kalo nggak lo bakalan rugi seumur hidup.”

Tentu aja Sivia nggak nolak. Selain Taman Bunga Indah adalah tempat kesayangannya, Sivia juga nggak mau hilangin kesempatan besar ini. Arin mungkin akan memperkenalkannya pada Rio.

“Emangnya ada apa disana?” Tanya Sivia

“Ada deh. Pokoknya lo datang aja. Dijamin seru, deg-degkan, dan intinya lo pasti akan memuji Rio kayak gini, ‘sumpah.. Rio keren banget..’. kalo gue boong, gorok aja leher gue..”

Hihihi.. Arin ada-ada aja. Ya udah deh, Sivia datang aja. Kok sebegitu serunya ya kalimat Arin tadi? Hmmm, ada apa ya??

***
Acha membaca dengan cermat lembaran yang berisi tulisan-tulisan yang menurutnya sangat penting. Jika tidak ada tulisan itu, maka usahanya untuk membuat kue gagal.

Pertama, panaskan margarin. Matikan api. Masukkan potongan cokelat masak pekat. Aduk sampai larut. Tambahkan cokelat pasta. Aduk rata. Sisihkan.

Kedua, kocok telur, gula pasir, dan emulsifier sampai mengembang. Tambahkan tepung terigu, cokelat bubuk, baking powder, dan garam sambil di ayak dan diaduk rata.

Ketiga, masukkan campuran margarin sedikit-sedikit sambil diaduk perlahan.

Keempat, bagi tiga adonan. Satu bagian tuang di loyang 24x10x7cm yang dialasi kertas roti tanpa dioles margarin. Kukus 10 menit dengan api sedang.

Kelima, tabur meises. Tuang lagi 1/3 adonan. Kukus 10 menit dengan api sedang. Tata keju lembaran. Tutp dengan sisa adonan. Kukus 15 menit sampai matang. Dinginkan.

Terakhir, oles bagian atas kue tipis-tipis dengan buttercream. Tabur keju cheddar parut dan meises secara selang-seling.

Aroma kue memenuhi dapur di rumah Acha. Secara hati-hati Acha meletakkan brownis dari panci ke tempat brownis yang berupa piring lebar berbahan plastik. Jadilah! Kue brownis kukus Cokelat keju buatan Acha. Tidak sabaran ia mencicipi hasil kerja kerasnya itu. Lezat tidak lezat, asalkan ia udah buat kue itu dengan tangannya sendiri, tanpa bantuan dari Mama.

“Acha!”

Suara lembut milik Sivia terdengar jelas di telinga Acha. Nah, mumpung ada Sivia, Acha ingin membagi brownisnya untuk Sivia. Siapa tau kan Sivia naksir sama brownisnya?

“Enak Cha. Gue suka!”

Itulah kalimat pertama yang diucapkan Sivia saat mencicipi brownis Acha. Yes! Acha puas banget. Harapannya untuk menjadi pengusaha kue terkenal pasti terwujud.

1 Message From Arin :

Cptn dtg!

Sivia membalas pesan dari Arin dengan hati yang berbunga-bunga. Wah..Wah.. Rio mo ngapain ya? Gue penasaran.

Message To Arin :

Iya J 

“Ada apa Siv?” Tanya Acha

“Kita disuruh Arin pergi ke Taman Bunga Indah. Yuk!” Jawab Sivia semangat.

Acha mengangguk. Sivia kenapa tuh? Semangat banget dia? Tak lupa pula Acha membawa kotak tupperware yang berisi brownis yang ia buat tadi.

***
Teriakan para penoton memeriahkan tempat itu. Terutama suporter dari SMP Sukma saat melihat salah satu pemainnya berhasil memasukkan bola ke ring lawan dengan tembakan three point shoot. Tembakan itu memperkecil jarak angka dengan tim lawan. Sekarang skor sementara yaitu 44-40 pada akhir quarter tiga
.
“Rio..Rio..”

Nama itulah yang menjadi sosok idola para suporter SMP Sukma. Dia adalah Rio Aditya, mantan kapten basket cowok SMP Sukma yang tahun lalu mendapat gelar MVP ( Most Valuable Player ). Meskipun Rio menjadi idola para cewek, nggak heran ya saat ini dia masih sendiri alias jomblo. Rio sering menolak cinta cewek-cewek yang menembaknya. Alasannya, Rio adalah cowok yang nggak mudah jatuh cinta. Tapi sekali jatuh cinta, Rio tetap setia kepada cewek yang disukainya itu. Kalau ada cewek yang dapat membuatnya jatuh cinta, artinya cewek itu adalah cewek yang paling hebat, bisa menaklukan Rio.

“Semangat Yo, semangat!!” Teriak Arin. Sementara Acha daritadi melongo melihat Rio. Ih, dia hebaat banget..

Quarter ketiga pun berakhir dengan skor 49-47 atas keunggulan SMP Harapan. Rasanya, pertandingan ini semakin seru aja. Acha yang dulunya bete kalo nonton pertandingan kayak gini berubah menjadi suka. Ia yakin seratus persen kalo timnya Rio pasti menang.

Berkat dukungan dan kerjasama dalam tim, akhirnya SMP Sukma yang menang. Para suporter bergiliran memberi ucapan selamat kepada masing-masing pemain. Terutama Rio. Bagi Rio, ini adalah pertandingan terakhirnya di SMP Sukma.

Thanks Yo!” Ucap Rendi, teman setim Rio.

Rio tidak membalas ucapan Rendi. Ucapan dari pendukungnya pun ia hiraukan. Memang hari ini Rio seperti orang aneh. Ketika Rendi mengajaknya berkumpul di Resto Mix-salah satu restoran kecil di Taman Bunga Indah-untuk mengadakan perpisahan, Rio menolak. Ia lari tanpa peduliin teriakan Rendi dan langsung menyambar jaket dan bola basketnya yang ia taruh di salah satu di salah satu meja dekat lapangan.

‘Rio aneh.’ Gumam Rendi dalam hati.

***
Jika ada pertemuan, tentu ada pula perpisahan. Rio, cowok itu menyendiri di dalam kamarnya sambil memetik gitar cokelat kesayangannya. Gitar itulah yang mengisi hari-harinya saat ia merasa sepi atau sendiri. Suaranya yang indah ditambah chord gitar yang pas menyempurnakan lagu yang dinyanyikannya.

Berjanjilah.. wahai sahabatku

Bila kau tinggalkan aku tetaplah tersenyum

Air matanya kembali menetes. Suaranya lirih dan bergetar menyanyikan lagu itu. Rio, sudah berkali-kali ia menerima kedaan ini. Tapi hatinya tak mampu menerima. Sungguh meyayat dalam hati jika keadaan ini terus berlanjut.

Semoga.. Dirimu disana kan baik-baik saja..

Untuk selamanya

Disini, aku kan selalu rindukan dirimu...

Wahai sahabatku...

1 message From : Cakka


Yo, dtg ya ke rmh skrg.


Rio menghela nafas panjang. Berat rasanya ia membaca pesan singkat itu. Sebentar lagi, ia akan berpisah dengan sahabat sejatinya yang bernama Cakka. Perpisahan itu harus ia hadapi dengan ketegaran.


Cowok itu telah sampai di depan pagar rumah Cakka. Gitar kesayangannya masih ia bawa. Kemudian, ia melihat Cakka sedang sibuk berbenah-benah. Mengetahui Rio udah datang, Cakka tersenyum tipis. Ia memberi Rio dua buah kotak yang isinya tidak Rio ketahui. Sebaliknya, Rio memberi Cakka gitar yang dibawanya itu.


Bye ya Kka. Rio selalu rindukan Cakka.” Ucap Rio lirih. Ia menerima dua buah kotak dari Cakka. Kotak pertama berukuran kecil, dan kotak kedua berukuran besar dan agak berat.


“Cakka juga selalu rindukan Rio..” Balas Cakka. kedua cowok itu berpelukan. Siapapun yang melihatnya, tergerak hatinya untuk meneteskan air mata. Ini juga berlaku bagi Bu Hesti-mama Cakka-melihat anaknya menangis meninggalkan sahabat yang disayanginya.


“Kka, jaga baik-baik gitar yang Rio beri buat Cakka ya..” Kata Rio. Cakka hanya mengangguk. Taksi biru itu bersiap-siap meninggalkan tempat rumah Cakka. Cepat-cepat Cakka masuk ke dalam taksi itu.


‘Selamat tinggal sahabatku. I always miss you.. I promise, someday I will find you.. You one my best friend.. Cakka Kawekas Nuraga..’


Dua buah kotak yang Cakka beri tadi langsung dibuka. Kotak pertama isinya sebuah ja tangan berwarna biru tua. Dan kotak kedua, sebelumnya Rio menebak-nebak dulu apa isi dibalik kotak ini. Kehabisan akal, Rio pun membukanya. Sebuah benda bulat oranye yang merupakan kesukaan Cakka. Rio tersenyum penuh arti.


‘Gue janji akan meraih cita-cita lo. Gue janji akan bawa nama sekolah gue, SMP Sukma untuk bertanding final se-provinsi. Yap, gue pasti bisa. Ini semua demi lo, untuk lo..’


***
“Gimana kabar lo Kka?” Tanya Rio

“Gue harap lo masih inget gue.”

Just alone Rio berbicara. Tak ada siapapun disekitarnya. Kecuali angin yang menemani perasaan rindunya, kenangannya. Rio mengungkit masa lalunya bersama Cakka. perpisahan itu.. Ah, masih ia ingat dan masih ia save di otak memorinya. Tak ada niatnya untuk men-delete kenangan itu. Tak terasa, air matanya menetes, membasahi bola basket yang ia pegang. Bola itulah salah satu kenangan dari Cakka selain jam tangan.

“Kapan lo balik Kka? Gue kangen ma lo.”

Cuaca berubah menjadi gelap. Terdengar bunyi halilintar yang membuat kaget siapa saja. Hujan sebentar lagi akan turun. Secepat mungkin Rio bangkit dan hendak pulang. Rintik-rintik air hujan turun membasahi wajahnya yang masih dipenuhi keringat karena pertandingan tadi. Hujan itu mengakhiri pikirannya yang melayang about a memory live with his close friend.

***

Untukmu Sahabat : Chapter (2) : Cinta Pertama


Nun jauh diperkotaan. Seorang cewek menatap kosong ke area sawah yang luas. Hamparan padi tumbuh dengan teratur. Ada juga tanaman lain yang tumbuh masak. Pikiran cewek itu terasa berat. Ah, seandainya Papa nggak melarangku.. Itulah harapannya.

Semilir angin lembut menerpa rambutnya yang panjang dan berkilau. Sekelompok burung pipit mendarat di tengah sawah untuk mencari padi yang menguning. Sialnya, orang-orangan sawah menaku-nakuti sekelompok burung pipit itu sehingga memutuskan untuk pergi. Cewek itu tertawa lirih melihat burung-burung itu berterbangan semakin jauh dari sawah.

Ify Alyssa nama cewek itu. Ia adalah cewek yang periang, cantik, pintar dan baik. Kecantikannya membuat semua lelaki tak tahan melihatnya. Meskipun Ify sering membalas senyum para lelaki itu, hatinya tetap mantap untuk tidak pacaran. Jika sekali aja dia pacaran, Papa pasti akan marah besar.

Larangan untuk tidak pacaran itu adalah hal yang biasa bagi Ify. Tapi larangan untuk bersekolah di SMA Alinice-SMA terbaik di Kota Bandung-itulah yang menjadi beban pikirannya. Masa’ sih Papa tega melarangku sekolah disana? Aku kan pintar Pa. Aku membahagiakan Papa dengan cara menggapai cita-citaku.

Kehilangan seorang Mama membuat Ify semakin sedih. Baru dua bulan yang lalu Mamanya menghadap Sang Khalik karena terkena penyakit kanker paru-paru. Jika diingat kejadian itu, Ify serasa ingin menangis terus. Hanya Mama yang tau segala isi hatinya. Tapi, kenapa Mama yang Engkau ambil? Kini, Ify hanya tinggal bersama Papanya. Hanya berdua!

Untunglah seorang sahabat mampu mengobati luka hatinya. Namanya Zahra. Sejak dari TK Ify dan Zahra menjalin persahabatan. Mereka berdua sering dijuluki ‘sahabat bagai kepompong’. Nggak tau ya kenapa itu julukan mereka. Pernah Ify membayangkan hidupnya seperti Zahra. Punya Papa yang baik, Mama yang pengertian, adik-adik yang imut, dan kehidupan yang sempurna serta harmonis.

Astagfirullah. Tidak boleh membanding-bandingkan hidup kita dengan hidup orang lain. Saat ini Ify masih bersyukur bisa menghirup udara segar. Memiliki seorang Papa yang tegas walau kadang-kadang sering membuat Ify menangis. Besok adalah hari senin. Besok ia akan bertempur melawan soal-soal ujian. Semilir angin lembut menyadarkannya untuk segera pergi menjenguk Tante Martha yang sedang sakit. Ify bangkit lalu menuju rumah untuk mengambil beberapa buah jeruk dan uang yang akan ia beri kepada Tante Martha nanti.

***
Tante Martha adalah seorang wanita yang sekarang Ify anggap sebagai Mamanya. Sifat Tante Martha yang tegas, tak kenal putus asa, dan sabar menjadi inspirasi bagi Ify. Wanita yang berusia tiga puluh tahunan itu yang sudah memiliki dua anak sekarang ini menjanda. Suami tercintanya meninggal karena kecelakaan maut. Mengingat waja cantik Tante Martha, Ify jadi teringat Mamanya. Sifat dan ciri-ciri Mamanya hampir sama dengan Tante Martha.

Marcellino Hermawan nama anak pertama Tante Martha. Sekarang dia duduk di bangku SD kelas lima. Yang kedua bernama Marnia Damayanti. Dia duduk di bangku SD kelas tiga. Ify selalu bahagia melihat kedua anak itu bermain bersama. Ia sangat berharap selalu bisa bertemu dengan Marcell dan Marni agar pikirannya terasa nyaman.

Dalam perjalanan, banyak yang menyapanya. Jika disapa, Ify membalas sapaan mereka dengan senyuman manisnya. Ditambah lagi kedua lesung pipitnya yang terbentuk secara jelas. Karena asyik memikirkan Marcell dan Marni, Ify tidak sadar kalau tangannya di cengkram kuat oleh dua lelaki yang tidak dikenalnya. Sekeranjang jeruk yang dibawanya berserakan dimana-mana. Dan selembar uang yang ia pegang diambil oleh satu dari dua lelaki itu.
“Lepasin aku!” Ronta Ify. Ingin rasanya ia menangis.

Kedua lelaki itu malah tertawa terbahak-bahak melihat ketakutan seorang cewek cantik yang disandranya. Sekarang, apa yang dilakukan kedua lelaki itu? Ify membayangkan yang tidak-tidak. Kalau tidak ada yang menolongnya, habislah dia!

“Woi! Lepasin dia!” Teriak seorang cowok dari jauh.

Alhamdulillah. Tuhan masih menyayangi Ify. Kedua lelaki itu melepas cengkraman di tangan Ify saat melihat cowok yang berperawakan tinggi dan tegap yang memelototi mereka. Ify yang masih ketakutan bersembunyi di balik punggung cowok itu.

“Siapa kalian? Mau apa kalian mengganggu cewek ini?” Tanyanya geram.

Tidak ada sepatah kata apapun keluar dari mulut kedua lelaki tersebut. Kedua lelaki itu terus menunduk. Tiba-tiba, kedua lelaki tersebut dihajar oleh cowok itu. Dengan nafas yang ngos-ngosan, kedua lelaki itu akhirnya pergi. Ify kagum melihat cowok tampan yang menolongnya barusan. Perasaan kagumnya itu menghadirkan getaran-getaran aneh yang memasuki jantungnya. Oh, apakah ini yang dinamakan cinta?

“Mm, makasih ya..” Ucap Ify deg-degkan. Semburat merah menghiasi kedua pipinya.

Cowok itu hanya tersenyum tanpa mengucapkan apa-apa. Kemudian, cowok itu pergi meninggalkan Ify yang melongo melihat bayangan cowok itu menghilang ditempatnya. Kecewa, Ify belum mengetahui siapa nama cowok itu.

***
Rumah Tante Martha terlihat sepi. Pasti tuan rumahnya sedang istirahat. Marcell dan Marni kemana juga? Seharusnya di Minggu ini mereka udah senang-senangnya main tembak-tembakan air. Seekor kucing berbulu putih menghampirinya lalu mengelus-ngelus kaki halusnya. Ify balik mengelus kepala kucing itu.
“Wah ada Kak Ify! Masuk dulu Kak!” Suara cadel seorang gadis kecil membuat Ify berhenti berkomunikasi dengan kucing itu.

Ify mengikuti Marni-gadis kecil tadi-menuju kamar Tante Martha. Kedua matanya berair melihat seorang wanita terbaring lemah di atas kasur. Kembali lagi ingatannya pada sang Mama saat terbaring di ranjang rumah sakit demi memperjuangkan penyakit yang diderita Mamanya. Buah jeruk dan uang yang ia bawa segera ditaruh di meja di samping kasur.

“Makasih ya Kak. Mudahan Mama cepet sembuh.”

Marni juga ikutan menangis melihat keadaan Mamanya. Dua cewek itu menangis bersamaan. Siapa saja yang melihatnya pasti akan menangis juga. Ify memegang pundak Marni setelah tangisannya mereda. Lalu ia mengajak Marni keluar dari kamar. Tepat di ruang tamu, ada dua cowok yang sedang bercanda ria. Ify dan Marni ikutan bergabung di ruang tamu bersama dua cowok itu.

“Kak Ify!” Teriak cowok itu yang tak lain adalah Marcell. Sementara cowok di samping Marcell itu belum dikenal sama Ify. Pernah liat sih, tapi nggak tau namanya.

“Thanks ya Kak udah datang kesini. Ohya, kenalin, ini Kak Gabriel.”

Cowok di samping Marcell tadi mengulurkan tangan kanannya ke Ify sambil tersenyum. Ify balik membalas senyum Gabriel dengan senyuman manisnya. Gabriel adalah cowok yang baik dan murah senyum. Tubuhnya yang atletis ditambah wajahnya yang cakep dapat membuat para cewek jatuh cinta kepadanya.

Langit berubah menjadi keorenan. Pertanda malam akan tiba. Benda bulat berwarna orange perlahan-lahan menghilang di ufuk barat. Guratan ketakutan menghiasi wajah Ify. Sekarang hampir malam. Ify tak tau jika ia pulang sendiri membelah malam. Biasanya, Ify pulang sebelum magrib. Gabriel menangkap ketakutan dari wajah cantik Ify. Muncul niatnya untuk mengantar Ify pulang.

“Ify pulang bareng siapa? Udah malem lho.” Ucap Gabriel lembut

“S..Sendiri..”

“Mau nggak gue antar? Kalo Ify pulang sendiri, nanti gue khawatir sama Ify. Takut Ify kenapa-napa.”

Ify menoleh melihat Gabriel dengan tatapan yang sulit diartikan. Bisa dibilang senang, marah, ataupun bingung.

“Mm, maaf Fy. Bukan maksud gue untuk merhatiin Ify, tapi..”

“Iya deh, Ify juga takut pulang sendiri.” Jawab Ify tersenyum.

Akhirnya, Ify dan Gabriel pulang bersama dengan berjalan kaki. Meskipun lumayan jauh, Gabriel merasa senang telah mengajak cewek ini pulang. Seneng banget.

“Ohya, btw, Ify sekolah dimana?” Tanya Gabriel

“SMP 44. Ify kelas tiga. Besok Ify mo ujian. Kalau kakak?”

Cihuiii, Ify manggil gue ‘Kakak’? Sekalian manggil “Mas” aja deh Fy...

“SMA Alinice. Kelas satu. Sebentar lagi mo naik kelas dua. Ify nanti mo SMA dimana? SMA Alnice?”

Mendengar SMA Alinice, Ify teringat dengan Papanya yang melarangnya sekolah disana. Papanya menyuruhnya sekolah di SMA 31-salah satu SMA negri yang kurang terkenal-. Tapi apa boleh buat, keputusan tetap keputusan. Jika Papa menyuruh sekolah di SMA 31, maka ia harus mau.

“Kok diem Fy? Belum tau ya mo lanjutin SMA dimana?”

“E..Um..Iya..”

Sudahlah, jangan dipikirkan. Lebih baik pikirkan UAN besok agar bisa menjawab soal dengan benar. Jalan pulang yang ia lewati tak lain dan tak bukan adalah jalan yang tadi ia lewati saat berangkat. Ify teringat cowok yang menyelamatkan nyawanya tadi. Siapapun cowok itu, Ify tetap menganggap cowok itu sebagai cinta pertamanya.

***