Setangkain bunga mawar merah
tersimpan rapi di vas bunga. Pemilik bunga mawar itu bingung mau ia apakan
bunga itu. Apakah harus dibuang? Rasanya tidak. Bunga itu ia beli dengan harga
yang cukup mahal. Percuma kan kalo dibuang. Sebuah tangan menyentuh pudaknya.
Mendadak ia kaget. Hah? Dira? Ada apa dia kemari?
“Eh Dira, what wrong you come here?” Cowok pemilik bunga itu bertanya kepada
temannya.
“Gue mo omongin cowok yang
kemaren itu..” Jawab Dira seraya duduk dihadapan Gabriel.
“Rio?” Tanya Gabriel malas.
Dira mengangguk. Sejak kejadian
di Taman Bunga Indah itu, Dira selalu menyinggung masalah tentang Rio, dan
sepertinya Gabriel tidak tertarik membahas soal Rio. Yang terpenting adalah
akan ia apakan mawar merah ini?
“Lo lagi fall love ya?” Tebak Dira yakin. Otomatis muka Gabriel berubah
menjadi malu.
“E..enggak kok..”
“Hahaha.. Lo bohong. Gue itu
kan sahabat lo sejak kecil, gue tau dong apa yang lo rasakan sekarang.” Dira
memegang pundak Gabriel dengan kedua tangannya. “Yel, kalo lo memendam sebuah
perasaan, entah itu cinta ato bukan, sebaiknya lo ungkapin perasaan itu. Kalo
nggak, itu sama artinya lo sakiti diri lo sendiri.”
Paham tidak paham Gabriel tetap
harus paham. Ucapan yang Dira katakan tadi emang ada benarnya. Ia harus
ungkapin perasaannya pada Ify, juga mawar itu. Mawar itu sebagai tanda cintanya
untuk Ify. So, just wait for a time.
Tunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaan itu.
“Ya udah deh..” Kata Gabriel
Dira, cowok berusia tujuh belas
tahun itu tersenyum melihat sahabatnya yang sedang dilanda banjir, eh.. cinta!
Menurutnya, cinta itu adalah sebuah anugerah dan juga sebuah misteri yang sulit
ia pecahkan. Kedua matanya pun memandangi bunga mawar cantik yang berada di
dalam vas bunga. Dira tersenyum.
“Yel, gue pengen kenal dekat ma
Rio. Gue tuh kagum ma dia. Dia itu jago banget maen basket..” Ucap Dira.
“Ah, lo ini ngefans banget sama
cowok yang jago maen basket..”
“Cewek juga! Jangan lupa.”
Tambah Dira.
Cewek? Hemm..
Belakang-belakangan ini Dira naksir lho sama Putri, kapten cheers yang dikenal seksi nan menawan. Pujaan hati para cowok.
Hahaha.. Tapi Diranya nggak berani PDKT, katanya malu. Huu.. Katanya tadi nggak
boleh memendam perasaan, eh malah dianya yang memendam perasaan. Dasar! Sok
kasi nasehat.
“By the way, siapa nama cewek pujaan lo itu?” Tanya Dira sambil
memakan snack qtella favoritnya.
“Rahasia. Doain gue ya agar Ify
mo nerima cinta gue..”
Waduh! Keceplosan deh
ngomongnya.
“Hahaha.. Ify..” Teriak Dira
lalu meninggalkan Gabriel.
“Woi! Dasar lo!” Geram Gabriel.
***
“Alhamdulillah..”
Kalimat itulah yang pertama
kali diucapkan oleh Acha saat mngetahui hasil nemnya. Tiga puluh enam. Murni!
Sembilan koma dua lima untuk matematika, delapan koma tujuh lima untuk bahasa
indonesia, delapan puluh koma lima puluh untuk bahasa inggris, dan sembilan
koma lima puluh untuk IPA.
Papanya menyuruh sekolah di SMA
Alinice. Tentu saja Acha nggak nolak. Oh,
wait! Sivia kan juga sekolah disana. Asyik dong! Bisa satu sekolah sama
Sivia. Sedaritadi Acha loncat-loncat saking gembira. Temannya yang bernama Yusuf
mentertawakannya.
“Hahaha.. Acha mo jadi
kelinci..”
Huh! Sial! Yusuf itulah temen
cowoknya yang paling nakal dan iseng. Tapi sebenarnya dia baik lho! Pernah dulu
sewaktu Acha kelas dua, PR Biologinya belum selesai ia kerjakan, dan Yusuf yang
mengasih tau Acha jawabannya. Belum lagi saat ulangan fisika mendadak. Yusuf
yang dikenal jago fisika itu dengan senang hati memberi contekan ke Acha.
Alhasil, nilai Acha bagus. Huh, tapi itu kan nggak murni.
“Lo mo sekolah dimana?” Tanya
Acha
“Nggak tau nih..”
“Kalo gue di SMA Alinice.” Kata
Acha tegas. Banyak lho temen-temennya yang pengen sekolah disana.
“Hei Cha! Kapan lo mo daftar di
SMA Alinice?” Tiba-tiba Tasya-temen ekskull Acha-datang tanpa diundang.
“Tanggal lima belas Mei
kayaknya.”
Tasya meng’o’kan jawaban yang
diberikan Acha. Niatnya bener-bener bulat yaitu sekolah di SMA Alinice. Tapi
bukan semata-mata karena SMA Alinice itu SMA unggulan lho. Melainkan kalo Acha
lagi naksir sama seseorang disana. Dira Putra Hendriawan. Ketua osis di SMA
Alinice sekaligus kapten basket cowok yang menjadi idola para cewek.
***
Saking tidak percayanya, Ify
membolak-balikkan undangan pernikahan itu. Undangan itu adalah undangan
pernikahan Tante Martha dengan Om Ferdi. Katanya sih Om Ferdi itu dulunya
kekasih Tante Martha sewaktu SMA. Romantis deh.. Cinta lama kembali bersemi.
Hari ini Ify sendirian di
rumah. Papanya sedang bekerja. Hanya seekor kucing manis-yang diberi nama
Melody-menemani hari-harinya. Kucing itu ditemukannya sebulan yang lalu
disekitar pekarangan rumah Zahra.
Heeemm.. Tadi Zahra memberi info
yang sangat heboh. Dia mendapat nem tiga puluh enam koma tiga sembilan. Masih
tinggian Ify. Nem Ify yaitu tiga puluh delapan koma sembilan tiga. Nem yang
cukup tinggi untuk bisa diterima di SMA Alinice. Aduh, SMA Alinice lagi. SMA 31
deh yang harus dipikirin. Tak apa. Ify udah siap menerima keadaan. Dimana pun
ia sekolah, yang penting Ify selalu rajin belajar dan mendapat nilai yang
memuaskan.
Acara pernikahan Tante Martha
dilakukan pada hari sabtu nanti. Ify udah nggak sabaran melihat keluarga baru
itu berbahagia. Bagaimana dengan keluarganya sendiri? Apakah Papa ingin menikah
lagi untuk mencarikannya sesosok Mama yang selalu menyayanginya apa adanya?
Apakah nantinya dia akan menjadi Cinderella? Punya Mama tiri dan Kakak tiri
yang jahat. Dan selanjutnya ia akan bertemu seorang pangeran tampan dari negri
sebrang yang akan melamarnya. Ah, itu hanyalah dongeng. Tidak semua ibu tiri
jahat. Papanya juga udah bulat untuk nggak menikah lagi, karena Papanya tetap
cinta mati sama Bu Irfa-mama Ify-.
Sebuah benda halus menyentuh
kakinya. Ify kaget. Melody! Kucing itu selalu saja memberi kejutan yang nggak
terduga. Ify bangkit lalu mengambil makanan untuk Melody. Nampaknya Melody
mulai kelaparan. Gayanya yang manja membuat Ify sadar kalo kucing itu pengen
diberi makan.
***
Suara musik mengalun di rumah
berhias itu. Para tamu duduk manis di kursi-kursi yang telah disediakan. Ada
juga beberapa tamu yang mengambil hidangan yang udah disajikan. Dua wajah
pengantin tersenyum bahagia. Sekelompok anak kecil berlari ria kesana-kemari,
ikut membahagiakan susana itu. Marni salah satu dari beberapa anak kecil itu.
Sedangkam Marcell entah pergi kemana. Marni tak sanggup menemukan kakaknya
diantara sekian banyak tamu yang datang.
Kedua bola matanya mencari
seseorang. Kemana Kak Ify? Dan seseorang itu ternyata udah ada dihadapannya.
Tidak ada habis-habisnya Marni memuji Ify. Hari ini Ify terlihat cantik dan
menawan. Rambut panjang ia biarkan tergerai ditiup angin. Drees merah muda selutut ditambah aksesoris lainnya yang sederhana.
Disampingnya ada Zahra yang sedang nyengir melihat Marni melongo melihat
tampang baru Ify yang dapat mengikat hati para cowok.
“Makasih ya Kak Fy, Kak Ra
karna udah datang.” Ucap Marni. Ify dan Zahra hanya mengangguk menanggapi
ucapan gadis kecil dihadapan mereka.
“Oh ya Kak, tadi Kak Fy dicari
sama Kak Yel.”
Hah? Dicari Gabriel? Nggak
salah denger tuh? Zahra terlihat senyam senyum melihat muka heran Ify. Pasti
ada something diantara mereka-Ify dan
Iyel-.
“Dimana Kak Iyel?” Tanya Ify
Marni mengangkat bahu. Terakhir
kali ia melihat Gabriel saat Gabriel menemuinya di halaman teras rumah. Sehabis
itu dia nggak tau kemana perginya.
“Ya udah kalo Marni nggak tau.”
Kata Ify agak kecewa.
Setelah acara pernikahan Tante
Martha selesai, Ify berjalan seorang diri menyusuri sekitar kompleks perumahan.
Ia masih ingat perkataan Marni tadi. Gabriel benar-benar mencarinya. Untuk apa?
Dirinya aja baru ketemu Gabriel cuma sekali.
Dari balik pohon rindang, Ify
mendengar seorang cowok sedang menyanyi. Suaranya bagus. Petikan gitarnya juga
indah. Karena penasaran, Ify pun berlari menuju asal suara indah itu.
Jantungnya berdetak kencang melihat seorang cowok tersenyum padanya.
“Kak Iyel?”
Gabriel tersenyum manis melihat
seseorang yang ditungguinya udah datang. Senyuman manis itu mengingatkan Ify
dengan seseorang yang dulu pernah menolongnya. Ah, cowok itu. Tapi Ify tak
yakin kalo Gabriel lah cowok yang menolongnya dulu. Bedanya, cowok yang dulu
menolongnya tidak sedewasa Gabriel dan rambutnya berantakan juga gondrong.
Tidak seperti Gabriel yang terlihat sangat rapi. Siapa sih cowok penolong itu?
Lho, kok mikirin cowok itu lagi sih? Harusnya sekarang Ify memikirkan cowok
yang ada didepannya.
“Fy..” Ucap Gabriel ragu.
Jantung Ify berdetak semakin
kencang melihat tatapan itu. Ia bingung dengan perasaannya saat ini. Yang jelas
bukan cinta, karena Ify sudah ada cowok yang ia sukai yaitu si cowok penolong
itu. Waduh! Bingung nih. Suka sama cowok tapi cowok itu belum kita kenal. Bisa gawat
nih.
“Fy, gue mo bilang sesuatu sama
kamu.”
Tanpa komando dari Gabriel,
tiba-tiba aja Ify udah duduk manis disamping Gabriel. Perasaannya semakin tidak
enak. Ify merasakan ada sebuah dilema besar yang akan dihadapinya. Sebuah
tangkai bunga mawar merah dan sebuah cokelat berbentuk cinta yang dipegang
Gabriel menggetarkan hatinya. Tuhan, apa Gabriel mau..
“Fy, lo mau nggak jadi cinta
terakhir gue? Jujur ya, sejak pertama kali gue ngeliat lo, jantung gue udah
berdebar-debar. Sangat cepat emang. Tapi itulah cinta. Tidak kenal waktu dan
tempat..”
JDERR...
Dadanya seperti ditusuk sebilah
pedang tajam. Sungguh, Ify bingung mau menjawab apa. Gabriel, cowok cakep itu
naksir kepadanya? Tidak mungkin.
“Fy, plis, lo harus jawab. Kalo
lo nggak bisa jawab sekarang, gue akan kasi lo tiga hari untuk berfikir.
Ambillah keputusan terbaik lo sebelum lo menyesal dikemudian hari.”
Apa yang dikatakan Gabriel
benar. Ify harus berfikir dulu. Tapi.. Jika ia udah menemukan jawabannya,
jawaban itu akan menusuk hatinya dan juga membuat hatinya tenang. Lho?
Maksudnya apa? Melihat sosok Gabriel, pasti banyak cewek yang mengincarnya.
Zahra pun pernah curhat kalo ia naksir sama Gabriel. Beruntung banget kalo Ify
jadi kekasih Gabriel, tapi ya.. mengingat cowok yang dulu pernah menolongnya,
berat rasanya untuk menerima cinta Gabriel.
“Mmm, Ify akan jawab sesuai
waktu yang Gabriel kasi.. Permisi, Ify mo pergi..”
Jangan pergi Fy! Temani gue
disini. Gue pengen lo nyanyi buat gue. Gabriel merintih dalam hati melihat
orang yang dicintainya meninggalkannya. Fy, apa artinya lo nolak cinta gue?
Ify berjalan tak tentu arah.
Semakin jauh dari Gabriel, ia semakin rapuh. Ify bingung apa yang harus ia
jawab. Apa jawabannya ‘tidak’? Terus, kalo itu emang keputusannya, jika suatu
saat Gabriel punya kekasih yang baru, apa ia tidak patah hati? Dan jika
jawabannya ‘iya’, hari-harinya nanti akan dilanda kegelisahan. Tidak nyaman
mengingat wajah cowok yang dulu pernah menolongnya yang menjadi cinta
pertamanya. Tuhan, bantu aku untuk keluar dari dilema besar ini.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar