Jumat, 21 Desember 2012

Untukmu Sahabat : Chapter (5) : Apa Mungkin Sivia?



Seharian, Gabriel tak habis memikirkan jawaban apa yang nanti Ify berikan. Antara ‘ya’ atau ‘tidak’. Sedari tadi ia hanya mondar-mandir nggak jelas. Ia bingung mau melakukan apa. Tadi ia di miscall oleh Dira. Katanya Dira mau mengajaknya main basket. Tapi Gabriel menolak. Jangankan main basket, nonton TV aja dia nggak mood.

Besok, tepatnya hari selasa, Ify akan menjawab perasaannya. Semakin cepat waktu berjalan, semakin dag-dig-dug aja. Mungkin malamnya Gabriel akan terkena insomnia.

“Kaka..”

Terdengar dari luar kamar suara seorang cewek. Tania, adik sematang wayangnya pasti ingin menagih janji untuk membelikannya kue natsar di Taman Bunga Indah. Huf.. Coba nggak gara-gara janji itu, mana mungkin Gabriel mau pergi ke tempat yang hanya ia datangi sekali saja.

Jaket hitam yang digantung di balik pintu kamar segera ia ambil lalu ia pakai. Tak lupa, kaca mata hitam dan kunci motor yang ia taruh di meja belajar. Dengan penampilan yang keren itu, Gabriel keluar rumah dan langsung men-starter motornya. Dari balik persembunyian, seorang cewek menatap kepergian motor itu dengan mata yang berkaca-kaca.

‘Maafin aku ya Iyel..’

“Duar!!”

Spontan Ify meloncat(?). Ah, Tania. Dia emang sering mengagetkannya. Gadis cilik itu memang memiliki hobi yang unik yaitu suka mengagetkan seseorang. Yang baru dikenalinya pun selalu ia kagetkan. Ify yang menjadi korban ke seribu. 

“Dede Tania ngagetin Kaka aja deh..” Kesal Ify memandangi gadis cilik yang tertawa karena berhasil mengagetkannya. Kedua cewek itu akhirnya bercanda bersama. Ify hampir lupa apa tujuannya pergi kesini. 

“Oh ya, ini Kaka titip surat ke Tania. Jangan lupa ya surat ini dikasi untuk Kak Iyel..”

Tania menerima sebuah surat dari tangan Ify. Senyum jahilnya pun mulai ada. Pasti ada sesuatu nih antara Kak Ify dengan Kak Iyel..

“Ify balik dulu ya.” Ucap Ify lemas. Seakan-akan ia rapuh meninggalkan rumah ini. Tania menatap kepergian Ify sambil menerka-nerka. Walaupu ia masih kecil, namun ia dapat mengartikan perasaan apa yang sedang Ify rasakan sekarang.

***

“Guk..Guk!!!”

Sial! Itukan anjing galak milik Pak Alex, kok bisa ada disini sih? Mati gue! Anjing itu mendekatinya. Detik pertama, Gabriel masih diam di tempat. Kedua..Ketiga.. Lari!!! Sekuat tenaga Gabriel melarikan diri dari anjing galak itu. Saking cepatnya lari, Gabriel nggak sengaja menabrak seorang cowok. Alhasil, ia dan cowok itu terjatuh bersamaan. Anjing itu.. Hahaha.. Lari aja enggak. Ternyata, tuh anjing udah dihipnotis menjadi anjing yang baik. Huh, kalo aja udah tau dari kemarin, ngapain juga lari? Buang-buang tenaga aja. 

“Lo kalo lari pake mata dong!” Bentak cowok yang ditabraknya.

“S..Sorry, gue nggak sengaja..” Ucap Gabriel lemah.

Cowok yang tadi ditabraknya memerhatikannya dari ujung rambut samapi ujung kaki. Gabriel merasa risih diperhatiin kayak gitu. Tuh cowok kenapa ya? Naksir ama gue? Idih, nggak banget deh. Dikira gue cewek lagi.

“Lo Gabriel kan?” Tanya cowok itu

Hah? Darimana dia tau nama gue?

“Jangan heran gitu, gue kenal lo dari Dira.” Kata cowok itu santai.

Dari Dira? Hemm.. Kayaknya sih tuh cowok nggak asing lagi bagi gue. Tapi dimana ya gue ketemu ma cowok itu? Oh, apa dia sepupu Dira? Ya! Cakka Kawekas Nuraga. Sepupu Dira.

“Cakka?” Tanya Gabriel yakin. Cowok itu malah tersenyum dan tidak menjawab. Dia langsung pergi tanpa berkata apa-apa. Uh, aneh banget tuh cowok. Bener apa kata Dira, Cakka emang sering kesal, marah-marah, katanya juga sih, Cakka itu lagi iri sama temennya.

Dan akhirnya, sampe juga di Taman Bunga Indah. Ingat taman ini, Gabriel ingat dengan cowok yang dikagumi Dira. Eh, dimana ya letak Toko Chacake?

“Permisi, dimana ya toko chacake?” Tanya Gabriel sopan kepada seorang cewek berpipi chubby yang sedang asyik dalam dunia bacaannya. Cewek yang ditanyainya itu tertawa pelan.

“Disamping resto-mix.” Jawabnya masih tetap tertawa kecil.

Resto-Mix? Dimana pula itu?

“Ehm, dimana Resto-mix itu?” Tanya Gabriel lagi.

Hahaha.. Tawa cewek itu mengembang. Tadi hanya kecil, sekarang besar.

“Disamping toko chacake.”

Jadi begini, cewek itu mempermainkannya. Gabriel udah nggak tahan pengen membentak cewek yang nggak dikenalinya itu. Tanya baik-baik kok dijawab tawaan sih?

“Eh, gue serius nanya ke elo! Sekarang jawab dengan jujur, dimana toko chacake?”

“Hahaha..” Tawa cewek itu. “Aduh Mas yang cakep, manis, ganteng ini..Toko chacake itu disini Mas, gimana sih Mas ini?” Cewek itu berdecak. Muka Gabriel berubah menjadi malu. Uh, kenapa gue sebego ini?

“Ups. Maap deh.”

Gabriel pun masuk ke dalam toko itu. That right! Toko ini adalah toko chacake. Menyediakan aneka macam roti yang lezat-lezat. Setelah mengambil sekotak kue natsar dan membayar di kasir, Gabriel mencar-cari sosok cewek tadi. Ingin rasanya dia kenal lebih dekat dengan cewek itu.

“Em, maaf. Boleh tau namanya siapa?” Tanya Gabriel.

“Sivia. Lo?” Jawab cewek itu.

“Gabriel.”

Sumpah! Keren banget tuh cowok. Batin Sivia dalam hati. Salting deh Via berhadapan dengan cowok cakep ini. Dari dalam toko, sepasang mata memerhatikan adegan itu. Hemm, pasti nih Sivia udah ngelupain Rio. Cepet banget tuh cewek pindah ke lain hati.

“Gue balik dulu ya..” Kata Gabriel

Yah. Kok cepet banget sih perginya.

“Ya udah deh. Hati-hati di jalan.”

Aduh, perasaannya sekarang lagi gimana gitu. Inilah kesempatan besar Acha untuk menggoda Sivia. Mulai dari kalimat, ‘cie..cie’ atau ‘ehem..ehem..dapet gebetan baru’.

“Inget Cha, lusa nanti kita daftar.” Kata Sivia 

“Yoi. Dan inget traktirannya juga ya. Lo kan dapet gebetan baru yang cakepnya bukan main itu. Hahaha..”
Kambuh..Kambuh sifat usil Acha. Dengan semangat Acha mencubit pipi Sivia. Otomatis Sivia mengerang kesakitan.

“ACHAA!!!”

***

Pendaftaran SMA Alinice dibuka. Banyak siswa-siswi dari berbagai SMP berlomba-lomba mendaftar disana. Salah satunya adalah Zahra. Zahra Damariva tepatnya. Ia berasal dari SMP 9. Suasana di sekeliling SMA Alinice hiruk pikuk. Bangunan megah lantai tiga, sarana yang lengkap, serta murid yang berprestasi membuat SMA Alinice adalah SMA nomor satu di Kota Bandung. Zahra membayang-bayangkan dirinya bisa diterima disini. Kalo diterima, bisa terbang ke langit deh.

Secepat kilat ia mengambil formulir pendaftaran. Diisinya formulir itu dengan teliti, lalu diperiksa berulang-ulang agar nanti tidak salah. Karena serius memeriksa, Zahra sama sekali tidak sadar kalau ada seseorang yang memanggilnya. Zahra pun menoleh ke arah orang itu. Dan waw! Mimpi apa ia semalam sampai-sampai sekarang ini ia berhadapan dengan seorang cowok yang dikategorikan sebagai cowok keren?

“Boleh saya pinjam pulpennya?” Tanya cowok itu ramah.

 Mulut Zahra tidak bisa berbicara. Cowok itu sudah menyihirnya. Ia hanya bisa memberi cowok itu pulpen angry birdsnya. Tangan indah cowok itu sedang menari-nari di atas lembaran formulir pendaftaran. Lucunya, Zahra iseng mencatat apa yang ditulis cowok itu. Setelah cowok itu selesai menulis, pulpen angry birdsnya dikembalikan. Cowok itu tersenyum manis. Ampuuuunnn!!!

“Makasi.” Kata cowok itu

“S..Sama-sama..”

Cowok itu langsung mengumpulkan formulir di panitia. Tiba-tiba kedua matanya menangkap wajah seseorang. Seseorang yang dirindukannya. 

“Cakka!!” Teriaknya. Namun yang diteriaki itu tidak menoleh.

Air matanya mulai ada. Tapi secepat mungkin ia hilangkan. Sebagai seorang lelaki, ia tidak boleh menangis. Mungkin saja cowok tadi itu bukan Cakka, sahabat sejatinya dari kecil.

“Rio nggak papa?” Tanya Ozy. Dia juga daftar sekolah disini.

Rio hanya mengangguk. Ingin rasanya ia menceritakan kejadian tadi. Tapi sudahlah. Itu semua tidak begitu penting. Rio hanya berharap, Cakka masih mengingatnya dan masih menganggapnya sebagai sahabat sejatinya.

***

Dear Gabriel :

Maaf kalo surat ini dapat menyakiti hati Iyel. Ify hanya bilang kalo Ify nggak bisa menjadi cinta terakhir Iyel. Dan Ify yakin sekali di luar sana ada seorang cewek yang menunggu cinta Iyel. Ify yakin sekali. Iyel harus berusaha untuk mendapatkan cewek itu.

From : Ify

Setidaknya hari ini ia bisa tenang. Ia tau Ify belum siap menjadi ceweknya. Tapi tak apa. Ia hanya perlu berusaha untuk mendapatkan cewek lain di hatinya, sesuai pesan Ify. Hah. Gabriel merebahkan tubuhnya di kasur. Sivia. Nama cewek itu berkelebat di pikirannya. Wajah manisnya juga menemani pikirannya. Oh, apa mungkin cewek itu adalah Sivia? Cewek yang akan menerimanya suatu hari nanti? Cewek yang dimaksud Ify di dalam surat itu?

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar