Rabu, 19 Desember 2012

Untukmu Sahabat : Chapter (3) : A Memory


Setelah melewati tiga hari yang menegangkan-ujian-, Sivia merasakan kelegaan. Sekarang tinggal bersenang-senang aja deh! Urusan sekolah, Sivia yakin seratus persen diterima di SMA Alinice karena nilai rapotnya bagus-bagus juga prestasinya di bidang matematika amat meyakinkan untuk bisa sekolah di SMA Alinice. Sore yang agak mendung ini, Sivia memutuskan untuk pergi ke rumah Arin. Ia ingin pamer kalau ia udah tau siapa nama cowok yang ia dan Arin kagumi-Rio-.

Sepeda polygon warna biru tua berhenti di sebuah rumah berpagar besi. Itu adalah sepeda Sivia. Rumah Arin sangat bersih, rapi dan indah. Ditambah lagi taman bunga mini yang berada disamping teras. Sivia memakirkan sepedanya ke halaman rumah Arin. Sudah menjadi kebiasaannya memarkir sepeda di halaman rumah Arin tanpa sepengetahuan pemilik rumah.

“Wah ada bakpia! Apa kabar?” Sapa Arin

“Baik. Eh, gue mo ngasih lo info. Info penting.”

“Info apaan sih?” Tanya Arin malas

“Info tentang cowok itu lho! Ingat nggak?”

Arin memutar-mutar pikirannya, padahal dia tau siapa cowok yang Sivia maksud.

“Udah deh Rin, lo kelamaan mikir..” Kata Sivia, dia mencari ancang-ancang untuk pamer

“Oo.. cowok itu. Ada apa emangnya?”

Aneh. Arin nggak heboh. Seharusnya dia berteriak kegirangan mendapat info cowok pujaaannya. Hal ini membuat nyali Sivia turun drastis untuk memamerkan ke Arin.

“Tiga hari yang lalu gue ketemu ma dia. Gue tau siapa namanya.”

“Oh ya?” Arin mejadi serius. Melihat perubahan wajah Arin, semangat Sivia untuk pamer mendadak muncul lagi.

“Bener Rin. Coba deh lo ikut. Sumpah, tuh cowok cakep abis.”

Arin tertawa ngakak. Perkataan Sivia tadi bak lelucon terlucu yang pernah didengarnya. Sivia heran melihat cewek dihadapannya ini. Apa sih maksudnya?

“Napa lo ketawa? Ada yang lucu?”

“Via..Via..Hahaha..”

Sivia memanyunkan bibirnya. Hiiii... Arin pengen gue bejek-bejek. Apanya sih yang lucu? Kok ketawanya kayak gitu?

“Rin.. Maksud lo ketawa apa sih?”

“Via..” Akhirnya Arin berhenti ketawa. “Rio tau nggak nama lo?” Sambungnya membuat jantung Sivia meloncat(?)

***
Seperti biasa, cowok itu selalu memainkan bola basketnya. Hari ini adalah hari keberuntungan Arin. Ia bisa melihat cowok itu sepusnya. Ini kan sore hari. Coba kalau di siang bolong kayak sama Sivia dulu. Lagi-lagi kedua bola matanya terfokus melihat gerak-gerik cowok itu.


‘gue harus deketin dia!’ ujar Arin dalam hati


Segala keberanian ia kumpulkan. Arin pun menemui cowok itu. Waktunya tepat. Cowok itu sedang istirahat di pinggir lapangan sambil meneguk sebotol air mineral.


“Hai!” Sapa Arin ramah


“Hai juga!” Balas cowok itu


Tuhan! Betapa kerennya cowok itu! Sumpah deh, gue pengen terbang ke angkasa. Cowok itu memiliki wajah manis, cakep, keren dan tubuhnya tinggi semampai. Kulitnya agak kecoklatan karena mungkin sering berjemur di bawah terik sinar matahari. Arin duduk disamping cowok itu dengan jantung yang berdetak cepat dari biasanya.


“Maaf ya ganggu.” Ucap Arin


“Nggak papa kok.” Jawab cowok itu lembut


Duh... Maniiisss bangeeet.. Sivia harus tau!!


“Mmm, nama kamu siapa?” Tanya Arin


“Rio.”


“Gue Arin.”


Arin menjabat tangan Rio. Entah mengapa tangannya enggan melepaskan jabatan itu. Ia ingin terus memegang tangan Rio. Bahkan ia ingin sekali tangannya di genggam oleh Rio.


“Kenapa kamu main basket sendiri?” Tanya Arin setelah cukup berjabat tangan dengan Rio. Rio tidak menjawab. Ia malah sibuk memutar bola basketnya dengan jari telunjuknya. Merasa pertanyaannya tidak dijawab, Arin memilih untuk diam. Mungkin Rio sedang tidak mood hari ini.


“Bisa nggak kamu main basket?” Tanya Rio


Arin menggeleng.


“Sini aku ajarin biar kamu bisa.” Ajak Rio bangkit dari tempat duduk.


What? Apa gue salah denger? Cowok pujaan gue ngajarin gue maen basket? Cihuiii...

***
So sweet..” Ucap Gita-teman dekat Arin-. Gita baru datang sebelum Arin memulai kisahnya. Wajah Arin memerah mendengar ucapan Gita. Bagaimana dengan Sivia? Dia jealous mendengar kisah Arin. So, Arin udah ngerebut hati Rio?

“Gue nggak percaya cerita lo!” Kata Sivia

“Nggak percaya? Kalo lo nggak percaya, darimana gue tau kalo nama cowok itu Rio?”

Kena deh Sivia! Harus mo ngaku kalo Arin bener-bener udah kenal Rio.

“Ya udah deh, gue percaya.” Wajah Sivia lesu.

“Udah deh Siv, ohya, gue tadi juga ketemu Rio. Katanya dia nyuruh gue datang ke Taman Bunga Indah besok. Lo mo ikut? Kalo nggak lo bakalan rugi seumur hidup.”

Tentu aja Sivia nggak nolak. Selain Taman Bunga Indah adalah tempat kesayangannya, Sivia juga nggak mau hilangin kesempatan besar ini. Arin mungkin akan memperkenalkannya pada Rio.

“Emangnya ada apa disana?” Tanya Sivia

“Ada deh. Pokoknya lo datang aja. Dijamin seru, deg-degkan, dan intinya lo pasti akan memuji Rio kayak gini, ‘sumpah.. Rio keren banget..’. kalo gue boong, gorok aja leher gue..”

Hihihi.. Arin ada-ada aja. Ya udah deh, Sivia datang aja. Kok sebegitu serunya ya kalimat Arin tadi? Hmmm, ada apa ya??

***
Acha membaca dengan cermat lembaran yang berisi tulisan-tulisan yang menurutnya sangat penting. Jika tidak ada tulisan itu, maka usahanya untuk membuat kue gagal.

Pertama, panaskan margarin. Matikan api. Masukkan potongan cokelat masak pekat. Aduk sampai larut. Tambahkan cokelat pasta. Aduk rata. Sisihkan.

Kedua, kocok telur, gula pasir, dan emulsifier sampai mengembang. Tambahkan tepung terigu, cokelat bubuk, baking powder, dan garam sambil di ayak dan diaduk rata.

Ketiga, masukkan campuran margarin sedikit-sedikit sambil diaduk perlahan.

Keempat, bagi tiga adonan. Satu bagian tuang di loyang 24x10x7cm yang dialasi kertas roti tanpa dioles margarin. Kukus 10 menit dengan api sedang.

Kelima, tabur meises. Tuang lagi 1/3 adonan. Kukus 10 menit dengan api sedang. Tata keju lembaran. Tutp dengan sisa adonan. Kukus 15 menit sampai matang. Dinginkan.

Terakhir, oles bagian atas kue tipis-tipis dengan buttercream. Tabur keju cheddar parut dan meises secara selang-seling.

Aroma kue memenuhi dapur di rumah Acha. Secara hati-hati Acha meletakkan brownis dari panci ke tempat brownis yang berupa piring lebar berbahan plastik. Jadilah! Kue brownis kukus Cokelat keju buatan Acha. Tidak sabaran ia mencicipi hasil kerja kerasnya itu. Lezat tidak lezat, asalkan ia udah buat kue itu dengan tangannya sendiri, tanpa bantuan dari Mama.

“Acha!”

Suara lembut milik Sivia terdengar jelas di telinga Acha. Nah, mumpung ada Sivia, Acha ingin membagi brownisnya untuk Sivia. Siapa tau kan Sivia naksir sama brownisnya?

“Enak Cha. Gue suka!”

Itulah kalimat pertama yang diucapkan Sivia saat mencicipi brownis Acha. Yes! Acha puas banget. Harapannya untuk menjadi pengusaha kue terkenal pasti terwujud.

1 Message From Arin :

Cptn dtg!

Sivia membalas pesan dari Arin dengan hati yang berbunga-bunga. Wah..Wah.. Rio mo ngapain ya? Gue penasaran.

Message To Arin :

Iya J 

“Ada apa Siv?” Tanya Acha

“Kita disuruh Arin pergi ke Taman Bunga Indah. Yuk!” Jawab Sivia semangat.

Acha mengangguk. Sivia kenapa tuh? Semangat banget dia? Tak lupa pula Acha membawa kotak tupperware yang berisi brownis yang ia buat tadi.

***
Teriakan para penoton memeriahkan tempat itu. Terutama suporter dari SMP Sukma saat melihat salah satu pemainnya berhasil memasukkan bola ke ring lawan dengan tembakan three point shoot. Tembakan itu memperkecil jarak angka dengan tim lawan. Sekarang skor sementara yaitu 44-40 pada akhir quarter tiga
.
“Rio..Rio..”

Nama itulah yang menjadi sosok idola para suporter SMP Sukma. Dia adalah Rio Aditya, mantan kapten basket cowok SMP Sukma yang tahun lalu mendapat gelar MVP ( Most Valuable Player ). Meskipun Rio menjadi idola para cewek, nggak heran ya saat ini dia masih sendiri alias jomblo. Rio sering menolak cinta cewek-cewek yang menembaknya. Alasannya, Rio adalah cowok yang nggak mudah jatuh cinta. Tapi sekali jatuh cinta, Rio tetap setia kepada cewek yang disukainya itu. Kalau ada cewek yang dapat membuatnya jatuh cinta, artinya cewek itu adalah cewek yang paling hebat, bisa menaklukan Rio.

“Semangat Yo, semangat!!” Teriak Arin. Sementara Acha daritadi melongo melihat Rio. Ih, dia hebaat banget..

Quarter ketiga pun berakhir dengan skor 49-47 atas keunggulan SMP Harapan. Rasanya, pertandingan ini semakin seru aja. Acha yang dulunya bete kalo nonton pertandingan kayak gini berubah menjadi suka. Ia yakin seratus persen kalo timnya Rio pasti menang.

Berkat dukungan dan kerjasama dalam tim, akhirnya SMP Sukma yang menang. Para suporter bergiliran memberi ucapan selamat kepada masing-masing pemain. Terutama Rio. Bagi Rio, ini adalah pertandingan terakhirnya di SMP Sukma.

Thanks Yo!” Ucap Rendi, teman setim Rio.

Rio tidak membalas ucapan Rendi. Ucapan dari pendukungnya pun ia hiraukan. Memang hari ini Rio seperti orang aneh. Ketika Rendi mengajaknya berkumpul di Resto Mix-salah satu restoran kecil di Taman Bunga Indah-untuk mengadakan perpisahan, Rio menolak. Ia lari tanpa peduliin teriakan Rendi dan langsung menyambar jaket dan bola basketnya yang ia taruh di salah satu di salah satu meja dekat lapangan.

‘Rio aneh.’ Gumam Rendi dalam hati.

***
Jika ada pertemuan, tentu ada pula perpisahan. Rio, cowok itu menyendiri di dalam kamarnya sambil memetik gitar cokelat kesayangannya. Gitar itulah yang mengisi hari-harinya saat ia merasa sepi atau sendiri. Suaranya yang indah ditambah chord gitar yang pas menyempurnakan lagu yang dinyanyikannya.

Berjanjilah.. wahai sahabatku

Bila kau tinggalkan aku tetaplah tersenyum

Air matanya kembali menetes. Suaranya lirih dan bergetar menyanyikan lagu itu. Rio, sudah berkali-kali ia menerima kedaan ini. Tapi hatinya tak mampu menerima. Sungguh meyayat dalam hati jika keadaan ini terus berlanjut.

Semoga.. Dirimu disana kan baik-baik saja..

Untuk selamanya

Disini, aku kan selalu rindukan dirimu...

Wahai sahabatku...

1 message From : Cakka


Yo, dtg ya ke rmh skrg.


Rio menghela nafas panjang. Berat rasanya ia membaca pesan singkat itu. Sebentar lagi, ia akan berpisah dengan sahabat sejatinya yang bernama Cakka. Perpisahan itu harus ia hadapi dengan ketegaran.


Cowok itu telah sampai di depan pagar rumah Cakka. Gitar kesayangannya masih ia bawa. Kemudian, ia melihat Cakka sedang sibuk berbenah-benah. Mengetahui Rio udah datang, Cakka tersenyum tipis. Ia memberi Rio dua buah kotak yang isinya tidak Rio ketahui. Sebaliknya, Rio memberi Cakka gitar yang dibawanya itu.


Bye ya Kka. Rio selalu rindukan Cakka.” Ucap Rio lirih. Ia menerima dua buah kotak dari Cakka. Kotak pertama berukuran kecil, dan kotak kedua berukuran besar dan agak berat.


“Cakka juga selalu rindukan Rio..” Balas Cakka. kedua cowok itu berpelukan. Siapapun yang melihatnya, tergerak hatinya untuk meneteskan air mata. Ini juga berlaku bagi Bu Hesti-mama Cakka-melihat anaknya menangis meninggalkan sahabat yang disayanginya.


“Kka, jaga baik-baik gitar yang Rio beri buat Cakka ya..” Kata Rio. Cakka hanya mengangguk. Taksi biru itu bersiap-siap meninggalkan tempat rumah Cakka. Cepat-cepat Cakka masuk ke dalam taksi itu.


‘Selamat tinggal sahabatku. I always miss you.. I promise, someday I will find you.. You one my best friend.. Cakka Kawekas Nuraga..’


Dua buah kotak yang Cakka beri tadi langsung dibuka. Kotak pertama isinya sebuah ja tangan berwarna biru tua. Dan kotak kedua, sebelumnya Rio menebak-nebak dulu apa isi dibalik kotak ini. Kehabisan akal, Rio pun membukanya. Sebuah benda bulat oranye yang merupakan kesukaan Cakka. Rio tersenyum penuh arti.


‘Gue janji akan meraih cita-cita lo. Gue janji akan bawa nama sekolah gue, SMP Sukma untuk bertanding final se-provinsi. Yap, gue pasti bisa. Ini semua demi lo, untuk lo..’


***
“Gimana kabar lo Kka?” Tanya Rio

“Gue harap lo masih inget gue.”

Just alone Rio berbicara. Tak ada siapapun disekitarnya. Kecuali angin yang menemani perasaan rindunya, kenangannya. Rio mengungkit masa lalunya bersama Cakka. perpisahan itu.. Ah, masih ia ingat dan masih ia save di otak memorinya. Tak ada niatnya untuk men-delete kenangan itu. Tak terasa, air matanya menetes, membasahi bola basket yang ia pegang. Bola itulah salah satu kenangan dari Cakka selain jam tangan.

“Kapan lo balik Kka? Gue kangen ma lo.”

Cuaca berubah menjadi gelap. Terdengar bunyi halilintar yang membuat kaget siapa saja. Hujan sebentar lagi akan turun. Secepat mungkin Rio bangkit dan hendak pulang. Rintik-rintik air hujan turun membasahi wajahnya yang masih dipenuhi keringat karena pertandingan tadi. Hujan itu mengakhiri pikirannya yang melayang about a memory live with his close friend.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar