Rabu, 19 Desember 2012

Untukmu Sahabat : Chapter (1) : Namanya Rio


Sinar rembulan menghiasi gelapnya malam. Taburan bintang berkelap-kelip mengindahi langit biru gelap. Suasana di langit pada malam itu sangat tenang. Tidak seperti wajahnya yang mendung dan berantakan. Banyak masalah-masalah yang menimpanya. Mulai dari gengnya yang ingin mengeluarkannya, kondisi keluarga yang kurang pas, dan yang lebih parah lagi, lusa nanti tepatnya hari senin tanggal tujuh April adalah hari dimana ia dan seluruh siswa yang menduduki kelas tiga SMP akan menghadapi suatu moment yang tidak menyenangkan yaitu Ujian.

Ujian. Heemm.. Siapa sih yang nggak kenal Ujian? Dan siapa sih yang nggak pernah ikut ujian? Tentu setiap orang pasti akan mengikuti ujian sebagai jalan untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Misalnya kalau kita mau SMP, kita harus ujian dulu agar dapet ijazah lalu bisa SMP deh.

Acha termasuk dari salah satu peserta ujian yang sekarang ini senewen berdiam diri di kamar sambil belajar ( Walaupun belajarnya nggak serius). Meski besok hari Minggu, ia tetap belajar. Biasanya sih malam mingguan kayak gini ia suka kumpul bareng geng tercintanya. Tapi itu semua sekarang udah nggak berlaku baginya. Acha harus meninggalkan kebiasaan buruknya. Ia tidak ingin mengecewakan kedua orangtuanya yang berjuang dengan sangat keras untuk membiayai dirinya.

Rumah sederhana namun nyaman berpagar bambu itulah tempat tinggal Acha. Papanya adalah seorang pengusaha kecil dan Mamanya yang jago bikin kue membuat toko kecil di depan rumah yang dikenal dengan ‘Toko Chacake’ yang selalu siap sedia menjual aneka macam kue seperti brownis, kue tart, kue kering dan lain-lain. Dari situlah Acha tertarik untuk membuat kue seperti Mamanya. Acha juga berniat pengen jadi pengusaha roti terkenal agar dapat membanggakan orangtua.

Kedua kakaknya yang kembar kini sukses bersekolah di Singapore tepatnya di NTU (Nanyang Technological of University) menjadi inspirasi tersendiri bagi Acha. Bayangkan, keluarganya hanyalah keluarga yang sederhana, namun dua anak dari keluarga itu dapat bersekolah di luar negeri. Tentu saja dengan beasiswa.

Adik terkecilnya yang bernama Puput bersekolah di SDN 2 Bandung. Biarpun Puput itu nakal, jahil dan nyebelin, Acha tetap sayang banget kepada adiknya. Saking sayangnya, Acha pernah neraktir Puput satu kotak eskrim walls yang mahalnya minta ampun.

Malam semakin larut dan Acha belum juga tidur. Ia masih memikirkan masalah-masalahnya itu. Di atas langit yang tenang dan damai, bulan purnama melirik ke arahnya sambil tersenyum penuh arti. Dan hal itu membuatnya memdapat satu jawaban atas masalahnya.

***
BRUK !!!

“Aw..”

Terdengar jeritan seorang cewek dari dalam kamar. Cewek itu benar-benar kesakitan. Coba bayangkan, semalaman ia tidur nyenyak tapi sekarang ia terjatuh dari atas tempat tidur ke bawah lantai yang keras. Acha mengelus-eluskan tubuhnya yang kesakitan.

Tit..Tit..Tit..

1 Message From Nova

Cha, napa sih lo skrg brubah? Apa lo mau gw keluarin dri geng?

Gila! Acha yang baru mengucek matanya kaget bukan main. Ternyata mimpinya jadi nyata! Dalam mimpi, ia siap dikeluarkan dari geng karena sikapnya yang belakangan-belakangan ini berubah. Entah itu jarang berkumpul, SMS nggak pernah di bales, pokoknya yang berhubungan dengan sikap kebalikannya itu.
Dalam diam Acha berfikir. Menurutnya, lebih baik mengundur diri aja dari geng, dan memulai kehidupan barunya yang lebih baik. Nggak ada gunanya kumpul bareng Nova-ketua geng-yang suka tebar pesona, sombong, egois, suka cari perhatian dan sebagainya. Semua itu tidak ada di dalam kamus kehidupannya. Jawabannya, mulai saat ini ia siap untuk keluar dari geng. Ia yakin itu adalah jawabannya yang baik dan tidak akan ia sesali. Masih ada juga kok sahabat-sahabat yang lain seperti Sivia.

Ohya, lupa nih. Pagi ini Acha udah janji sama Sivia untuk kumpul di TBI ( Taman Bunga Indah )-salah satu taman favorit Sivia-. Acha udah kenal Sivia sejak dua minggu yang lalu.

***
Bu Indah-mama Acha-menyuruhnya untuk menjual empat kotak kue putri salju di tempat manapun asalkan laku. Tentu aja Acha dengan senang hati melaksanakan tugasnya itu. Acha mengerti kalau mamanya saat ini sangat sibuk.

“Ini ya mama titip ke kamu. Laku tidak laku, yang penting kamu udah berusaha.” Pesan Bu Indah kepada putrinya. Acha mengangguk paham.

Pagi yang cerah ini, Acha isi dengan berjualan kue. Ia tidak peduli ajakan gengnya yang menyuruhnya berkumpul untuk melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat. Belakang-belakangan ini Acha memang jarang berkumpul bareng gengnya.

Sudah hampir menjelang siang kue putri salju yang dijualnya belum habis. Tinggal dua toples yang masih tersisa. Sepertinya, Acha ingin menangis. Kasian kan kalau kue yang dibuat mamanya nggak laku? Atau gini aja. Jual aja di TBI, pasti laku. Kata orang-orang sih taman itu ramai banget. Banyak orang yang berjualan disana. Akhirnya, Acha pergi kesana dengan harapan kuenya laku terjual.

Usahanya tidak sia-sia. Kue putri saljunya ludes dibeli orang. Bahkan ada pembeli yang ingin memesan kue lain. Wuih, saking senengnya ia lupa kalau belum makan. Tidak jauh dari taman, Acha berhenti di sebuah kedai makan. Lumayan kan untuk mengisi perutnya yang keroncongan.

Saat Acha tengah melahap soto ayam di warung yang disinggahinya itu, ada seorang cewek berwajah manis duduk sambil bersedih. Cewek itu menutup wajahnya yang sepertinya sedang tak ingin dilihatin. Dengan berani, Acha menyapa cewek itu.

“Hai! Kamu nggak papa?”

Cewek itu melepaskan tangannya dari wajah. “Uang gue. Uang gue yang berjumlah seratus ribu hilang. Nggak tau kemana.”

Ooo, jadi itu masalahnya! Acha kasian melihat cewek di sampingnya. Uang berjumlah seratus ribu itu besar lho! Pantesan aja cewek itu hampir menangis. Karena nggak rela melihatnya bersedih, Acha memberi cewek itu selembar uang ratusan dari hasil jualannya. Hitung-hitung sedekah.

“Wah, makasih ya..”Cewek itu tersenyum bahagia. Kedua pipi Chubbynya membentuk dua lesung pipit yang indah. “Oh ya, nama lo siapa?” Lanjut cewek itu menyodorkan tangan kanannya ke Acha.

“Nama gue Acha. Kalo lo siapa?”

“Gue Sivia.”

Tidak terasa mereka menjadi akrab. Layaknya dua sahabat yang dulu berpisah lalu bertemu kembali. Dari Sivia, Acha dapat mengerti arti hidup di dunia ini. Sivia memang cewek yang pintar dan berprestasi. Sewaktu SMP, dia pernah mendapat juara tiga olimpiade matematika tingkat provinsi. Hebat juga ya! Beruntung banget Acha bisa kenalan sama Sivia.


***
Taman Bunga Indah adalah sebuah taman yang menyenangkan. Disana ada sebuah taman bunga yang cantik, area permainan, tempat menjual aneka makanan, juga lapangan luas yang dijadikan sebagai tempat olahraga. Acha jadi tidak sabar menuju taman itu.

BRUKK!!!

Untuk kedua kalinya Acha jatuh. Ia terjatuh karena kakinya tersandung sebuah benda biru. Lututnya terasa sakit. Tapi tidak mengeluarkan darah. Sebisa mungkin Acha bangkit. Kalau tidak, ia pasti diomelin Sivia karena nggak datang ke TBI.

Hup! Bisa juga deh Acha berdiri. Dilihatnya benda biru itu. Ternyata, benda biru itu adalah sebuah jam tangan. Tanpa berfikir panjang Acha mengambil jam itu untuk dibicarakan bareng Sivia. Siapa tau kan Sivia bisa membantunya untuk mencari siapa gerangan yang memiliki jam itu.

Sesampai di taman, Acha celingukan sana-sini mencari Sivia. Di hari Minggu ini memang waktu yang tepat untuk jalan-jalan kesini. Makanya, Acha kaget melihat keramaian di tempat ini. Ada satu tempat yang menjadi pusat keramaian itu. Tertarik, Acha segera menuju tempat itu.

Lho? Itu kan Sivia. Acha memanggil nama Sivia keras-keras. Merasa di panggil seseorang, Sivia menoleh untuk memastikan kalau panggilan itu tertuju padanya.

“Acha! Akhirnya lo datang juga.” Acha tersenyum dan duduk disamping Sivia.

“Apa kabar Siv? Ohya, gue mo omongin sesuatu ke elo.”

Disodorkannya jam tangan yang ia temui tadi. Awalnya, Sivia merasa bingung. Tapi karena mendengar penjelasan dari Acha, Sivia pun mengerti. Dan bukan mengerti saja, Sivia tak asing lagi dengan jam tangan itu.

“Jadi, dimana lo pernah liat jam tangan ini?” Tanya Acha penasaran.

***
Di bawah terik matahari yang menggila ini, dua orang cewek sedang serius melihat seorang cowok yang asyik memainkan bola basketnya. Cowok itu terlarut dalam permainannya sampai-sampai lupa kalau udara di siang ini panasnya bukan main. Sivia dan Arin adalah dua cewek itu. Mereka iseng melihat cowok yang tidak dikenalnya.

Sekarang, cowok itu berhasil memasukkan bola ke ring dengan cara Lay-up. Benar-benar keren! Sivia dan Arin sudah tersihir dengan gaya cowok itu.

“Keren ya tu cowok. Siapa ya namanya?” Gumam Arin

“Mana gue tau.” Kata Sivia. Jelaslah dia tidak kenal cowok itu.

Panas matahari semakin menjadi-jadi. Wajah Arin yang lemas karena udah nggak tahan panas akhirnya mengundurkan diri. Kini tinggal Sivia yang masih setia memandangi gerak-gerik cowok itu.

“Kasih tau gue ya info tentang cowok itu.” Pesan Arin

Sivia hanya tersenyum melihat punggung Arin yag makin lama makin menghilang. Arin...Arin... Hobinya nyari cowok cakep aja. Untung dia punya wajah cantik dan manis. Mata Sivia melihat ke pergelangan tangan cowok itu. Ada handband merah yang terpasang di tangan kanan cowok itu serta jam biru tua yang mengkilat.

Dari jauh, Sivia dapat melihat dengan jelas wajah cowok itu. Walaupun kulit cowok itu agak cokelat, namun menurut Sivia itu adalah cowok tercakep yang pernah dilihatnya. Hayoo, ketularan Arin. Suka ngeliat cowok cakep.

Eh liat tuh! Sepertinya cowok itu udah capek. Lihat aja keringatnya yang bercucuran membasahi wajahnya. Sivia jadi cekikikan sendiri. Tuh cowok imut juga kalau sedang keringetan. Selang beberapa menit, cowok itu bangkit setelah istirahat di pinggir lapangan dan pergi meninggalkan tempat itu. Tanpa sepengetahuan cowok itu, diam-diam Sivia mengikuti kemana cowok itu akan pergi. Wuih! Segitunya.

Berkat usahanya mengikuti cowok itu, Sivia jadi tau. Cowok itu tinggal di Perumahan Bintang Jaya yang katanya Arin adalah tempat tinggal orang-orang kaya.

***
“Bener ini rumah cowok yang lo maksud?” Tanya Acha tak yakin

Rumah besar yang ia dan Sivia lihat adalah rumah orang kaya ( Ya jelaslah ). Pagar rumah itu berwarna hitam. Tembok luarnya berwarna kuning oren. Sivia hanya mengangguk mendengar pertanyaan Acha.

Perumahan Bintang Jaya. Jarak antara perumahan itu dengan rumah Arin lumayan jauh. Ia dan Sivia menaiki angkot untuk bisa sampai disana. Tapi lumayanlah. Sivia yang membayar ongkos bemo yang agak mahal bagi Acha.

Dari balik pintu depan rumah besar itu, muncul seorang cowok setinggi Acha. Hampir saja Sivia mau bilang ‘yes’ tapi nggak jadi karena cowok yang keluar dari balik pintu itu bukan cowok yang ia maksud. Cowok yang barusan keluar segera membuka pintu gerbang sambil menyapa dua cewek cantik dihadapannya.
“Hello ladies! Apa yang sedang kalian cari?” Ucap cowok itu ramah

“Gue mau..” Kata Sivia

“Hei! Kayaknya itu jam tangan Kakakku deh. Tunggu dulu ya..” Cowok itu kembali memasuki rumahnya.

Benerkan dugaan Sivia. Jam tangan biru itu milik cowok yang kini menjadi pujaannya. Beruntung sekali Acha menemukan jam berharga itu. Menit kemudian, cowok yang tadi itu kembali menuju tempat Sivia dan Acha. Bahkan ada seorang cowok cakep disampingnya. Waw! Acha sampai tak berkedip melihat tampang cowok yang keren itu.

“Hai! Adikku bilang kalian menemukan jam tanganku ya?” Tanya cowok itu ramah disertai senyuman yang manis.

“I..Iya..Ini..” Jawab Acha gugup seraya mengasih jam tangan biru yang ditemukannya tadi.

Cowok itu menerima jam tangan biru dari Acha. Mata cowok itu berkaca-kaca. Jam tangan itulah salah satu kenangan dari sahabat sejatinya yang bernama Cakka. Jika seandainya jam tangan itu tidak ditemukan, kemungkinan ia dianggap sebagai orang yang menghianati persahabatan.

“Thanks ya.” Kata cowok itu senang lalu beranjak balik ke dalam rumah

“Eh tunggu!” Larat Acha yang membuat cowok itu menghentikan jalannya. “Nama lo siapa?” Masih sempat juga Acha kenalan sama cowok itu.

“Nama gue Rio.”

Singkat, padat dan jelas. Jadi, namanya Rio. Nama yang manis. Sama kayak orangnya. Bisa-bisa Acha jatuh cinta lagi sama Rio.

“Kenalin, gue Ozy.” Cowok yang tadi keluar pertama kali memperkenalkan diri.

“Gue Acha dan ini bakpia..eh maksudnya Sivia.” Jawab Acha

Huh! Seandainya Rio sendiri yang menanyakan siapa namanya, bukan Ozy. Acha melihat-lihat Ozy dari bawah sampai atas. Kayaknya, cowok ini adalah cowok periang, usil dan gampang bergaul. Beda dengan Rio. Sejak awal bertemu Rio, Acha menyimpulkan kalau Rio itu anaknya cuek, dingin, pendiem dan sebagainya.

Tangan kanan Sivia mencubit lengan Acha. Tuh cewek nggak ada kerjaan lain. Tapi ada maksudnya lho cubitan itu. Menandakan kalau Sivia pengen cepat-cepat pulang. Besok kan mau ujian. Akhirnya Acha berpamitan dengan Ozy diikuti Sivia.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar