Rabu, 19 Desember 2012
Untukmu Sahabat : Chapter (2) : Cinta Pertama
Nun jauh diperkotaan. Seorang cewek menatap kosong ke area sawah yang luas. Hamparan padi tumbuh dengan teratur. Ada juga tanaman lain yang tumbuh masak. Pikiran cewek itu terasa berat. Ah, seandainya Papa nggak melarangku.. Itulah harapannya.
Semilir angin lembut menerpa rambutnya yang panjang dan berkilau. Sekelompok burung pipit mendarat di tengah sawah untuk mencari padi yang menguning. Sialnya, orang-orangan sawah menaku-nakuti sekelompok burung pipit itu sehingga memutuskan untuk pergi. Cewek itu tertawa lirih melihat burung-burung itu berterbangan semakin jauh dari sawah.
Ify Alyssa nama cewek itu. Ia adalah cewek yang periang, cantik, pintar dan baik. Kecantikannya membuat semua lelaki tak tahan melihatnya. Meskipun Ify sering membalas senyum para lelaki itu, hatinya tetap mantap untuk tidak pacaran. Jika sekali aja dia pacaran, Papa pasti akan marah besar.
Larangan untuk tidak pacaran itu adalah hal yang biasa bagi Ify. Tapi larangan untuk bersekolah di SMA Alinice-SMA terbaik di Kota Bandung-itulah yang menjadi beban pikirannya. Masa’ sih Papa tega melarangku sekolah disana? Aku kan pintar Pa. Aku membahagiakan Papa dengan cara menggapai cita-citaku.
Kehilangan seorang Mama membuat Ify semakin sedih. Baru dua bulan yang lalu Mamanya menghadap Sang Khalik karena terkena penyakit kanker paru-paru. Jika diingat kejadian itu, Ify serasa ingin menangis terus. Hanya Mama yang tau segala isi hatinya. Tapi, kenapa Mama yang Engkau ambil? Kini, Ify hanya tinggal bersama Papanya. Hanya berdua!
Untunglah seorang sahabat mampu mengobati luka hatinya. Namanya Zahra. Sejak dari TK Ify dan Zahra menjalin persahabatan. Mereka berdua sering dijuluki ‘sahabat bagai kepompong’. Nggak tau ya kenapa itu julukan mereka. Pernah Ify membayangkan hidupnya seperti Zahra. Punya Papa yang baik, Mama yang pengertian, adik-adik yang imut, dan kehidupan yang sempurna serta harmonis.
Astagfirullah. Tidak boleh membanding-bandingkan hidup kita dengan hidup orang lain. Saat ini Ify masih bersyukur bisa menghirup udara segar. Memiliki seorang Papa yang tegas walau kadang-kadang sering membuat Ify menangis. Besok adalah hari senin. Besok ia akan bertempur melawan soal-soal ujian. Semilir angin lembut menyadarkannya untuk segera pergi menjenguk Tante Martha yang sedang sakit. Ify bangkit lalu menuju rumah untuk mengambil beberapa buah jeruk dan uang yang akan ia beri kepada Tante Martha nanti.
***
Tante Martha adalah seorang wanita yang sekarang Ify anggap sebagai Mamanya. Sifat Tante Martha yang tegas, tak kenal putus asa, dan sabar menjadi inspirasi bagi Ify. Wanita yang berusia tiga puluh tahunan itu yang sudah memiliki dua anak sekarang ini menjanda. Suami tercintanya meninggal karena kecelakaan maut. Mengingat waja cantik Tante Martha, Ify jadi teringat Mamanya. Sifat dan ciri-ciri Mamanya hampir sama dengan Tante Martha.
Marcellino Hermawan nama anak pertama Tante Martha. Sekarang dia duduk di bangku SD kelas lima. Yang kedua bernama Marnia Damayanti. Dia duduk di bangku SD kelas tiga. Ify selalu bahagia melihat kedua anak itu bermain bersama. Ia sangat berharap selalu bisa bertemu dengan Marcell dan Marni agar pikirannya terasa nyaman.
Dalam perjalanan, banyak yang menyapanya. Jika disapa, Ify membalas sapaan mereka dengan senyuman manisnya. Ditambah lagi kedua lesung pipitnya yang terbentuk secara jelas. Karena asyik memikirkan Marcell dan Marni, Ify tidak sadar kalau tangannya di cengkram kuat oleh dua lelaki yang tidak dikenalnya. Sekeranjang jeruk yang dibawanya berserakan dimana-mana. Dan selembar uang yang ia pegang diambil oleh satu dari dua lelaki itu.
“Lepasin aku!” Ronta Ify. Ingin rasanya ia menangis.
Kedua lelaki itu malah tertawa terbahak-bahak melihat ketakutan seorang cewek cantik yang disandranya. Sekarang, apa yang dilakukan kedua lelaki itu? Ify membayangkan yang tidak-tidak. Kalau tidak ada yang menolongnya, habislah dia!
“Woi! Lepasin dia!” Teriak seorang cowok dari jauh.
Alhamdulillah. Tuhan masih menyayangi Ify. Kedua lelaki itu melepas cengkraman di tangan Ify saat melihat cowok yang berperawakan tinggi dan tegap yang memelototi mereka. Ify yang masih ketakutan bersembunyi di balik punggung cowok itu.
“Siapa kalian? Mau apa kalian mengganggu cewek ini?” Tanyanya geram.
Tidak ada sepatah kata apapun keluar dari mulut kedua lelaki tersebut. Kedua lelaki itu terus menunduk. Tiba-tiba, kedua lelaki tersebut dihajar oleh cowok itu. Dengan nafas yang ngos-ngosan, kedua lelaki itu akhirnya pergi. Ify kagum melihat cowok tampan yang menolongnya barusan. Perasaan kagumnya itu menghadirkan getaran-getaran aneh yang memasuki jantungnya. Oh, apakah ini yang dinamakan cinta?
“Mm, makasih ya..” Ucap Ify deg-degkan. Semburat merah menghiasi kedua pipinya.
Cowok itu hanya tersenyum tanpa mengucapkan apa-apa. Kemudian, cowok itu pergi meninggalkan Ify yang melongo melihat bayangan cowok itu menghilang ditempatnya. Kecewa, Ify belum mengetahui siapa nama cowok itu.
***
Rumah Tante Martha terlihat sepi. Pasti tuan rumahnya sedang istirahat. Marcell dan Marni kemana juga? Seharusnya di Minggu ini mereka udah senang-senangnya main tembak-tembakan air. Seekor kucing berbulu putih menghampirinya lalu mengelus-ngelus kaki halusnya. Ify balik mengelus kepala kucing itu.
“Wah ada Kak Ify! Masuk dulu Kak!” Suara cadel seorang gadis kecil membuat Ify berhenti berkomunikasi dengan kucing itu.
Ify mengikuti Marni-gadis kecil tadi-menuju kamar Tante Martha. Kedua matanya berair melihat seorang wanita terbaring lemah di atas kasur. Kembali lagi ingatannya pada sang Mama saat terbaring di ranjang rumah sakit demi memperjuangkan penyakit yang diderita Mamanya. Buah jeruk dan uang yang ia bawa segera ditaruh di meja di samping kasur.
“Makasih ya Kak. Mudahan Mama cepet sembuh.”
Marni juga ikutan menangis melihat keadaan Mamanya. Dua cewek itu menangis bersamaan. Siapa saja yang melihatnya pasti akan menangis juga. Ify memegang pundak Marni setelah tangisannya mereda. Lalu ia mengajak Marni keluar dari kamar. Tepat di ruang tamu, ada dua cowok yang sedang bercanda ria. Ify dan Marni ikutan bergabung di ruang tamu bersama dua cowok itu.
“Kak Ify!” Teriak cowok itu yang tak lain adalah Marcell. Sementara cowok di samping Marcell itu belum dikenal sama Ify. Pernah liat sih, tapi nggak tau namanya.
“Thanks ya Kak udah datang kesini. Ohya, kenalin, ini Kak Gabriel.”
Cowok di samping Marcell tadi mengulurkan tangan kanannya ke Ify sambil tersenyum. Ify balik membalas senyum Gabriel dengan senyuman manisnya. Gabriel adalah cowok yang baik dan murah senyum. Tubuhnya yang atletis ditambah wajahnya yang cakep dapat membuat para cewek jatuh cinta kepadanya.
Langit berubah menjadi keorenan. Pertanda malam akan tiba. Benda bulat berwarna orange perlahan-lahan menghilang di ufuk barat. Guratan ketakutan menghiasi wajah Ify. Sekarang hampir malam. Ify tak tau jika ia pulang sendiri membelah malam. Biasanya, Ify pulang sebelum magrib. Gabriel menangkap ketakutan dari wajah cantik Ify. Muncul niatnya untuk mengantar Ify pulang.
“Ify pulang bareng siapa? Udah malem lho.” Ucap Gabriel lembut
“S..Sendiri..”
“Mau nggak gue antar? Kalo Ify pulang sendiri, nanti gue khawatir sama Ify. Takut Ify kenapa-napa.”
Ify menoleh melihat Gabriel dengan tatapan yang sulit diartikan. Bisa dibilang senang, marah, ataupun bingung.
“Mm, maaf Fy. Bukan maksud gue untuk merhatiin Ify, tapi..”
“Iya deh, Ify juga takut pulang sendiri.” Jawab Ify tersenyum.
Akhirnya, Ify dan Gabriel pulang bersama dengan berjalan kaki. Meskipun lumayan jauh, Gabriel merasa senang telah mengajak cewek ini pulang. Seneng banget.
“Ohya, btw, Ify sekolah dimana?” Tanya Gabriel
“SMP 44. Ify kelas tiga. Besok Ify mo ujian. Kalau kakak?”
Cihuiii, Ify manggil gue ‘Kakak’? Sekalian manggil “Mas” aja deh Fy...
“SMA Alinice. Kelas satu. Sebentar lagi mo naik kelas dua. Ify nanti mo SMA dimana? SMA Alnice?”
Mendengar SMA Alinice, Ify teringat dengan Papanya yang melarangnya sekolah disana. Papanya menyuruhnya sekolah di SMA 31-salah satu SMA negri yang kurang terkenal-. Tapi apa boleh buat, keputusan tetap keputusan. Jika Papa menyuruh sekolah di SMA 31, maka ia harus mau.
“Kok diem Fy? Belum tau ya mo lanjutin SMA dimana?”
“E..Um..Iya..”
Sudahlah, jangan dipikirkan. Lebih baik pikirkan UAN besok agar bisa menjawab soal dengan benar. Jalan pulang yang ia lewati tak lain dan tak bukan adalah jalan yang tadi ia lewati saat berangkat. Ify teringat cowok yang menyelamatkan nyawanya tadi. Siapapun cowok itu, Ify tetap menganggap cowok itu sebagai cinta pertamanya.
***
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar